"kita tidak bisa menurunkan harga solar serta merta dari penurunan harga minyak dunia
BACA JUGA: Stop! Rencana Privatisasi BUMN
kita akan cermati dulu perkembangan kurs, dan harga minyak."kata Purnomo dalam keterangan pers di kantor Departemen Energi dan Sumber Daya dan Mineral, Jakarta, Senin (10/11).Menurut Purnomo, pelmahan nilai tukar rupiah yang menembus Rp 11.000 per US$ membuat dorongan penurunan harga Solar tertahan
BACA JUGA: Krisis Keuangan Global, Hindari Kebijakan Unilateral
"Fungsinya bukan hanya harga, tapi juga nilai tukar rupiahBACA JUGA: Bank-Bank Perang Bunga Pangkas Laba
Walau harga minyak turun, tapi kalau kurs rupiah turun, dia balance," tambahnya.Selain berpatokan pada harga minyak dan nilai tukar rupiah, pemerintah juga harus memperhitungkan keseimbangan APBN agar tidak defisit terlalu banyak"Kita juga harus memikirkan keseimbangan APBN, Pagu subsidi untuk 2008 sudah kepake pada OktoberIni saja berarti kita sudah tekor." katanya.
Menurut Purnomo jika harga solar diturunkan maka pemerintah akan menanggung tambahan beban subsidi.Padahal berdasarkan perhitungan pemerintah hingga bulan Oktober saja pagu subsidi pada APBN-P sudah habis sebesar Rp 126,82 TriliunJika kebutuhan tambahan subsidi dari penurunan Solar ditambahkan ke total subsidi yang diperkirakan Rp 139,2 triliun, maka total subsidi bisa menjadi Rp 139,7 triliunMaka pemerintah akan menombok subsidi BBM dan LPG di APBNP 2008 yang sebesar Rp 13,7 triliun.(wid)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Percepat Pembentukan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia
Redaktur : Tim Redaksi