Perjalanan Ockto Ryanto Parlaungan Mengejar Cita-Cita Jadi Komikus

Baru Rasakan Dapat Uang setelah Lima Tahun

Selasa, 25 November 2014 – 23:51 WIB
TAK SIA-SIA: Ockto (tengah) bersama dua pemenang lain setelah menerima penghargaan kompetisi komik yang diselenggarakan Kementerian Luar Negeri Jepang.

jpnn.com - Sebagai bagian dari industri kreatif, buku komik termasuk belum mendapat tempat yang layak di tanah air. Meski demikian, sejumlah komikus lokal terus berjuang walaupun harus jatuh bangun menahan gempuran komik-komik asing. Salah satunya Ockto.

Laporan Dian Wahyudi, Jakarta

BACA JUGA: Si Anak itu Memeluk dan Berbisik, Ibu Guru Sayang

SAMBIL mengacungkan pedang di tangan kanan, Jenderal De Kock yang berada di atas benteng berteriak memerintah pasukannya untuk menembak. Moncong-moncong meriam yang sudah diarahkan ke sasaran seketika menyemburkan peluru-peluru berbentuk bola.        

Di sisi berlawanan, Pangeran Diponegoro memberikan instruksi yang sama. Di atas kuda yang mengangkat dua kaki depannya, Diponegoro menyeru pasukannya untuk menyerbu. Keris di tangan kanannya diacungkan ke arah pasukan Belanda. 

BACA JUGA: Kegigihan Edi Priyanto, Demi Cita-Cita Setiap Hari Tempuh 12 Km dengan Kursi Roda

Perang sengit pun terjadi. Dari sisi kekuatan, tentu saja pasukan Belanda di atas angin. Banyak pasukan Pangeran Diponegoro yang berguguran karena terkena tembakan meriam dan senapan laras panjang tentara kolonial. 

Namun, tiba-tiba ada pemandangan aneh. Di antara dua pasukan yang sedang bertempur dengan kekuatan yang tidak seimbang, ada lima anak siswa SMP yang panik dan bingung. Penampilan mereka tampak kontras. Model baju yang dikenakan berbeda dengan pakaian yang dikenakan pasukan Pangeran Diponegoro ataupun tentara Belanda. Mereka berpakaian layaknya anak sekarang yang sedang bermain.

BACA JUGA: Serunya Belajar di Sekolah Terbaik AS

Lima anak itulah yang kemudian menjadi tokoh sentral komik Merdeka: Di Bukit Selarong karya Ockto Baringbing, komikus muda asal Jakarta, tersebut. Cerita ber-setting situasi Perang Diponegoro (1826–1830), namun alurnya sedikit ”menyimpang” dari perjalanan sejarah yang sebenarnya.

Secara garis besar, lima murid SMP Sangsaka itu digambarkan melompat ke zaman perjuangan Pangeran Diponegoro setelah mendapat tugas membuat makalah dari gurunya.

”Saya ingin mengajak pembaca menengok kembali sejarah dengan cara yang lebih menarik. Caranya ya dengan komik Merdeka ini,” kata Ockto ”Baringbing” Ryanto Parlaungan saat ditemui di rumahnya, Kampung Curug, Jakarta Timur, Senin (17/11).

Komik dengan tema besar sejarah perjuangan Indonesia melawah penjajah tersebut merupakan salah satu karya awal pria kelahiran Jakarta itu. Komik tersebut dicetak pada 2009 dan dipasarkan secara luas.

Perjalanan Ockto dalam berkarya tidak ditempuh dengan mudah. Jatuh bangun dirasakannya sejak kali pertama memutuskan menekuni dunia komik sesaat sebelum lulus kuliah.

Berawal dari prestasi menjadi juara pertama Pekan Komik Nasional 2006 yang diadakan UK Petra, Surabaya, Ockto langsung menancapkan cita-cita untuk menempuh jalan sepi sebagai komikus. Bersama dua rekannya sesama mahasiswa Desain Komunikasi Visual ITB, Bagus Seta dan Miftah Bayu, Ockto bertekad untuk tidak mencari pekerjaan dulu setelah lulus kuliah.

Benar saja, setelah lulus pada 2007–2008, ketiganya kemudian berkonsentrasi menghasilkan karya-karya komik. Mereka menjadikan kamar Ockto sebagai semacam workshop. Mulai Senin hingga Jumat mereka bekerja keras di kamar yang dinding-dindingnya dipenuhi poster komik tersebut.  

Ockto berperan sebagai penulis cerita dan membuat storyboard (alur cerita bergambar kasar). Sedangkan dua rekannya berperan sebagai ilustrator. ’’(Pekerjaan) itu kami jalani sekitar setahun. Sebagai anak-anak muda, kami sangat menggebu-gebu waktu itu,” kenang Ockto, lalu tertawa.

Tantangan mulai mereka hadapi ketika memasuki proses publikasi karya. Beberapa penerbit yang selama ini aktif mencetak komik-komik lokal sedang berhenti produksi. ”Industri komik Indonesia ketika itu sedang redup. Kami merasa seperti lulus kuliah di saat yang salah,” kata dia.

Melihat kenyataan seperti itu, Ockto cs akhirnya mencoba jalur indie. Komik Merdeka dicetak dan diedarkan sendiri. Mereka hanya mencetak sedikit, 500 eksemplar. Tapi, pekerjaan tersebut menguras tenaga, pikiran, dan waktu. Akibatnya, rencana penerbitan komik kedua terbengkalai.

”Jangan tanya balik modal atau tidak, karena sudah pasti tidak,” katanya sambil tersenyum.

Selain Merdeka, ketika itu telah siap materi komik berjudul Bocah untuk dibukukan. Namun, karena berbagai keterbatasan, termasuk dana, Bocah belum bisa dicetak. Seperti Merdeka, komik kedua bercerita seputar dunia anak dalam berbagai sekuel, juga sepenuhnya ber-setting Indonesia.       

Karena tidak tahu mau diapakan komik itu, Ockto dkk akhirnya iseng mengirim dua bab materi komik ke kompetisi yang diadakan salah satu penerbit di Jepang, Kodansha. Tanpa diduga, karya mereka masuk 20 besar di antara ribuan komik yang ikut. Namun, ”prestasi” itu belum cukup untuk mengantar Bocah untuk naik cetak.

”Setelah sekitar setahun tak jelas, akhirnya kami sampai pada satu kesimpulan, mungkin belum waktunya,” kenang Ockto.

Dari pelajaran itu, ketiganya mulai berpikir untuk mencari pekerjaan normal. Mereka lalu mengirim lamaran ke perusahaan-perusahaan yang membutuhkan karyawan di bidang artistik. Ujung-ujungnya, Ockto sukses diterima di salah satu TV swasta nasional.

Ketika Ockto akan menjalani karir baru di pertelevisian, tiba-tiba terdengar kabar bahwa penerbit Koloni mulai menerima kembali karya komik dari luar. Mereka pun langsung mengirim naskah jadi Bocah dan Merdeka ke Koloni. Mereka gembira bukan kepalang karena keduanya diterima. Bahkan, kerja sama itu berlanjut ke buku seri kedua.

”Tapi, empat (buku komik) itu belum ada duitnya. Balik modal saja nggak,” tutur Ockto.

Meski seluruh biaya cetak ditanggung penerbit, penjualan komik mereka belum bisa menembus angka terendah pembagian royalti. ”Kalau bukan passion, orang pasti sudah berhenti,” katanya.

Berbeda dengan dua rekannya yang semakin serius menekuni pekerjaan masing-masing, Ockto masih asyik dengan gambar-gambar ceritanya. Meski tidak seaktif seperti ketika awal-awal lulus kuliah, dia masih berusaha mencari peluang untuk bisa kembali bangkit.

Hingga akhirnya sekitar 2012 Ockto bertemu dengan salah satu penerbit online. Sang penerbit mengungkapkan ketertarikannya menerbitkan karya-karya komik Ockto. Terutama, karena tema yang tidak terkesan dipaksakan meniru komik mainstream Jepang untuk menarik pembaca.

Semangat Ockto untuk menekuni dunia komik bangkit lagi. Namun, dia sudah kehilangan dua temannya yang memilih bidang pekerjaan lain. Dia pun mencari gantinya. Melalui media sosial Facebook, Ockto akhirnya bertemu dengan Muhammad Fathanatul Haq, komikus asal Jogjakarta. Keduanya lalu menjalin kerja sama.

Seperti karya-karya sebelumnya, Ockto fokus di cerita hingga storyboard, sedangkan Fathanatul Haq menangani gambarnya. Dari kerja sama keduanya, lahirlah kisah komik berjudul Lima Menit sebelum Tayang. Secara garis besar, komik itu bercerita tentang liku-liku seorang editor video, kamerawan, dan reporter saat mempersiapkan produk tayangan news.

”Komik itu berdasar kisah nyata yang pernah saya alami sebagai orang tivi,” ujar anak keempat di antara lima bersaudara tersebut.

Tidak lama setelah komik itu jadi, Ockto mendapat informasi bahwa Kementerian Luar Negeri Jepang menggelar kompetisi komik internasional di luar komikus Jepang. Dia pun kemudian mengirim karya terakhirnya.

Tak disangka, karya Ockto dan Fathanatul Haq berhasil menjadi pemenang di kompetisi bergengsi yang diikuti ratusan karya komik dari berbagai negara tersebut. Karya Ockto dan Fathanatul Haq meraih medali perak di ajang International Manga Award itu. Bersama peraih gold award yang diraih komikus Thailand dan dua peraih silver award lainnya dari Thailand dan Tiongkok, Ockto diundang untuk menerima penghargaan tersebut di Jepang.

’’Waktu itu cita-cita saya kembali melambung. Apalagi, komik Lima Menit sebelum Tayang akan dicetak di Jepang,” paparnya.

Namun, ketangguhan Ockto kembali diuji. Penerbit terakhir yang menggandeng dia akhirnya juga gulung tikar karena sejumlah kendala internal. ”Saya saat itu seperti jatuh dari titik atas ke titik paling bawah,” imbuhnya sambil kembali tersenyum.

Untung, jatuh bangunnya Ockto dalam menekuni dunia komik relatif mendapat support dari keluarganya. Sebagai orang perantauan dari Batak, bapaknya sejak awal sudah mempersilakan anaknya menekuni dunia yang masih belum terang tersebut.

”Hanya ibu yang awalnya mempertanyakan, tapi kemudian menyerahkan keputusannya kepada saya. Paling yang masih sering ditanyakan, kapan nikah,” katanya, lalu tertawa.  

Kebangkitan kembali Ockto seiring kelahiran majalah Re:On. Majalah tersebut khusus berisi karya-karya komik. Dari situ kemudian lahir karya terbarunya yang berjudul Galauman. Komik itu menceritakan keberadaan superhero lokal yang baru berubah menjadi pahlawan ketika dalam situasi galau.

Majalah yang terbit tiap 5–6 minggu sekali itu sudah memasuki edisi ke-10 pada November 2014. Mereka terbit kali pertama pada Juli 2013. ’’Terus terang, baru sekarang saya merasakan dapat uang dari karya komik saya meski juga belum bisa jadi pegangan sepenuhnya,’’ ungkap Ockto. (*/c10/ari)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Peraih Adhi Makayasa Letda Laut (P) Egistya Pranda Berbagi Kisah


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler