Pernyataan Tegas Siti Nurbaya di Konferensi Iklim Dunia

Senin, 20 November 2017 – 10:06 WIB
Menteri LHK Siti Nurbaya. Foto: KLHK for JPNN.com

jpnn.com, BONN - Konferensi perubahan iklim dunia (COP UNFCCC) 23, yang berlangsung sejak tanggal 6 November, berakhir pada 17 November lalu. Berbagai negosiasi terkait upaya dan komitmen perubahan iklim, telah dihadiri delegasi pemerintah Republik Indonesia.

COP merupakan forum pertemuan 195 negara dan satu blok ekonomi (Uni Eropa) yang membahas upaya mengatasi perubahan iklim. Pada konferensi ini, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dr. Siti Nurbaya juga melakukan berbagai pertemuan dengan delegasi berbagai negara di dunia. Selain juga menjadi pembicara kunci pada berbagai pertemuan tingkat tinggi.

BACA JUGA: Jajanan Pasar dan Buket Bunga Menteri LHK di Jerman

Dari berbagai pertemuan tersebut, Menteri Siti Nurbaya menyampaikan poin-poin penting kebijakan, implementasi nyata, hingga komitmen Indonesia terhadap dampak perubahan iklim. Setidaknya ada lima pernyataan pentingnya yang dirangkum dari berbagai kegiatan yang dihadiri selama berlangsungnya COP 23.

''Pemerintah Indonesia percaya bahwa kita tidak bisa bekerja sendiri, harus bekerja sama dan harus lebih pintar dari sebelumnya menghadapi tantangan perubahan iklim,'' bunyi pernyataan Menteri Siti Nurbaya saat menyampaikan pidato resmi pada pertemuan tingkat tinggi COP 23.

BACA JUGA: Menteri LHK: Kita Harus Kerja Sama dan Lebih Pintar

Dalam berbagai pertemuan dengan delegasi berbagai negara, Menteri Siti Nurbaya juga menyampaikan capaian-capaian Indonesia dalam melindungi kawasan gambut.

''Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) gambut tidak hanya spesifik untuk Indonesia tapi juga di belahan dunia lainnya. Saya ingin meyakinkan Anda semua, bahwa pemerintah Indonesia telah melakukan yang terbaik mengatasi karhutla, dengan serius menjaga gambutnya. Salah satu indikator capaiannya, jumlah lahan gambut terbakar 2017, berkurang hingga 99 persen dari tahun 2015. Bencana asap secara nasional bisa dihindari terjadi pada tahun 2016 dan 2017. Ini dapat menjadi tahun di mana kita mengakhiri perusakan hutan yang membakar masa depan kita,'' tutur Menteri Siti.

BACA JUGA: Perhutanan Sosial, Cara Indonesia Atasi Perubahan Iklim

Komitmen melindungi gambut yang dilakukan KLHK, dikatakan Menteri Siti Nurbaya mendapat apresiasi dari banyak negara. Terlebih lagi di tengah tantangan dan dampak perubahan iklim yang dialami negara-negara lainnya di dunia saat ini.

''Kami buktikan bahwa Indonesia bukan negara yang ketinggalan (dalam tata kelola gambut). Banyak referensi yang diambil dari konferensi ini. Dari Indonesia, dunia belajar tentang tata kelola gambut. Dunia juga belajar bagaimana masyarakat lokal yang berada dalam kawasan hutan, bisa diberi akses legal melalui Perhutanan Sosial, untuk ikut mengelola sekaligus menjaga hutan tetap lestari,'' ungkapnya.

Tidak hanya menyampaikan capaian-capaian, Menteri Siti Nurbaya juga memantau pelaksanaan paviliun Indonesia yang didirikan untuk mendukung COP 23. Sebanyak kurang lebih 200 pembicara dari berbagai negara hadir dalam 48 sesi diskusi panel hadir.

''Ada satu dinding berisi tulisan dan harapan dari audiences selama diskusi-diskusi di Paviliun Indonesia. 200 pembicara dari seluruh dunia hadir dalam 48 sesi diskusi panel. Saya membaca tulisan-tulisan itu dan menyadari, bahwa kita semakin perlu mendengar, mencatat, artikulasi, formulasi dan eksekusi nyata untuk aksi perubahan iklim,'' katanya.

Menteri Siti Nurbaya tak lupa mengingatkan dan mengajak semua pihak, untuk benar-benar menjaga komitmen mengatasi dampak perubahan iklim, yang kian nyata mengancam dunia.

''Dampak buruk perubahan iklim tidak akan pernah bisa ditangani oleh satu negara saja. Perlu komitmen secara global terhadap Perjanjian Paris, dan itu harus terus diperkuat karena tidak dapat diubah lagi. Ini tidak dapat dinegosiasikan, karena perubahan iklim adalah tanggung jawab global,'' tegasnya. (jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Menteri Siti: Perubahan Iklim Tak Bisa Ditangani Satu Negara


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler