Persoalan Lelang Pemerintah Mendominasi Laporan ke KPPU

Kamis, 13 April 2017 – 23:45 WIB
Dirut Batam Pos Marganas Nainggolan (tiga dari kiri) memberikan masukan kepada Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Pusat Syarkawi Rauf (dua dari kanan), Komisioner Nawir Messi (kanan) dan Ketua KPPU Kantor Perwakilan Daerah (KPD) Batam Lukman Sungkar saat berkunjung ke redaksi Batam Pos, Kamis (13/4). F. Cecep Mulyana/Batam Pos

jpnn.com, BATAM - Ketua KPPU Pusat, Syarkawi Ra'uf, menyatakan sebagian besar dari laporan yang masuk KPPU merupakan persoalan lelang di pemerintahan.

Di mana hampir 80 persen di antaranya merupakan kasus persekongkolan tender dalam proyek pengadaan barang dan jasa oleh pemerintah.

BACA JUGA: Banyak Pelabuhan Tikus, KPPU: Batam Rawan Persekongkolan Kartel

"Paling banyak terkait kartel dan monopoli, kurang dari 20 persennya kartel non tender," kata Syarkawi saat mengunjungi Batam Pos (Jawa Pos Group), Kamis.

Dalam kasus ini, kata dia, pemerintah dan peserta tender melakukan persekongkolan untuk memenangkan peserta tertentu. Agar tidak mudah diketahui, persengkokolan ini didesain sedemikian rupa.

BACA JUGA: Peternak Babi Minta Disediakan Lokasi Legal

Misalnya, proses lelang proyek pengadaan barang dan jasa tetap dibuka secara online. Sehingga siapapun yang memenuhi syarat bisa menjadi peserta tender.

"Namun siapa yang akan memenangkan tender itu sudah ditentukan panitia lelang," ucap Syarkawi.

BACA JUGA: Begini JAC Batam Kenalkan Pariwisata Kepri di Medan

Sebagai lembaga independen, sambung dia, KPPU memiliki empat kewenangan yakni penegakan hukum, memberikan saran, merger dan akusisi serta melakukan pengawasan persaingan usaha. Kewenangan ini diatur di dalam undang-undang No 5 tahun 1999.

Direktur Utama Batam Pos, Marganas Nainggolan, mendukung langkah positif yang dilakukan KPPU. Dia menilai harus ada undang-undang yang tegas, sehingga kinerja dan fungsi KPPU sendiri lebih terasa, terutama dalam pengawasan dan penindakan persaingan usaha.

"Batam Pos mendukung dan kami percaya kinerja KPPU," tuturnya.

Marganas menduga, praktik persaingan usaha yang tak sehat masih marak terjadi di Batam. Dugaan ini muncul jika menilik harga komoditas di Batam yang masih sangat tinggi. Misalnya harga kebutuhan pokok. Padahal Batam merupakan daerah bebas pajak.

"Apakah kartel atau monopoli, KPPU-lah yang bisa menjawabnya," tantang Marganas didampingi Pemimpin Redaksi Batam Pos Muhammad Iqbal, dan Kordinator Liputan Batam Pos Yusuf Hidayat. (rng)

BACA ARTIKEL LAINNYA... 2000 Pencaker Rebutan 60 Posisi, Ya Begini Jadinya...


Redaktur & Reporter : Budi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler