Politik Uang Paling Diminati Masyarakat

Hasil Survei Pilkada

Rabu, 11 Agustus 2010 – 06:17 WIB

JAKARTA - Politik uang selalu marak pada setiap pilkadaApakah itu mengganggu publik? Survei ternyata menunjukkan sebaliknya

BACA JUGA: Mr N Bisa Jadi Bumerang Demokrat

Hasil survei yang dilakukan Universitas Paramadina bersama Pride Indonesia menunjukkan bahwa persentase keinginan warga yang paling tinggi adalah agar pasangan calon memberikan uang kepada mereka.

Dalam survei yang mengambil sampel pilkada di Kabupaten Mojokerto tersebut, 14,9 persen warga berharap peserta pilkada itu memberikan uang jika ingin dipilih
"Ini adalah angka yang mengkhawatirkan," kata Abd Rohim Ghazali, peneliti senior Pride, dalam keterangan pers di Gedung Energy, Jakarta, kemarin (10/8)

BACA JUGA: MK Tolak Keberatan Pemohon Gugatan Pilkada Sintang

Warga yang menginginkan calon memberikan sembako mencapai 10,6 persen
Sedangkan warga yang berharap sang calon memberikan modal usaha sebanyak 5,3 persen

BACA JUGA: MK Kukuhkan Kemenangan Calon Demokrat-PAN di Konsel

Survei tersebut dilakukan 20-25 Mei 2010 dengan melibatkan 400 responden di 18 kecamatan di wilayah Mojokerto

Menurut Ghazali, hasil survei itu menunjukkan dengan jelas bahwa praktik politik uang bukan hanya direstui, tapi juga diminati masyarakatSementara  itu, jawaban pertanyaan terkait dengan penegakan idealisme demokrasi oleh pasangan calon sangat rendah"Jawaban seperti menepati janji, merakyat, memiliki visi-misi, dan jujur kurang diminati publik," papar Ghazali.

Jika data itu tidak cukup, jawaban responden terhadap pertanyaan yang ditujukan ke parpol ternyata juga seragamJika parpol ingin dipilih (dalam pemilu legislatif), 11,5 persen responden berharap parpol tersebut memberikan uangSebanyak 9,3 persen responden meminta parpol memberikan sembakoLagi-lagi, persentase jawaban responden yang ingin diberi uang adalah tertinggi jika dibandingkan dengan jawaban lain.

Ghazali menyatakan, hasil itu tentu memprihatinkanPemberantasan korupsi yang dilakukan lembaga antikorupsi seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ternyata belum menunjukkan hasilKeberhasilan KPK dalam memberantas korupsi hanya bersifat preventif atau pencegahan"Itu pun kalau ada," kata Ghazali.

Ketua Yayasan Paramadina Didik JRachbini menambahkan, praktik politik uang itu bisa terjadi antarpribadi maupun secara kolektifNamun, pada perkembangan saat ini, politik uang telah bermetamorfosis dalam berbagai bentukSeperti jalan, jembatan, sekolah, sembako, obat-obatan, bahkan rumah ibadah"Politik uang yang sudah bermetamorfosis sulit dibuktikan," kata DidikItu bisa sebagai dalih wujud bakti sosial pasangan calon kepada warga.

Didik menyatakan, jawaban warga Mojokerto dalam survei tersebut memang tidak bisa dianggap sebagai representasi seluruh warga IndonesiaNamun, hasil survei itu relevan dengan data bahwa pilkada adalah salah satu penyebab praktik korupsi di Indonesia.  "Belum lagi ditambah dengan efek kerusuhan sosial yang juga terjadi di pilkada," kata mantan ketua DPP PAN tersebutPilkada Mojokerto tercatat sebagai pilkada yang rusuhPada 21 Mei lalu, terjadi kerusuhan dengan perusakan fasilitas daerah oleh mereka yang tak bertanggung jawab.

Berdasar hasil pantauan ICW, sebagaimana disampaikan juga dalam survei itu, setidaknya ada lima incumbent yang sudah menjadi tersangka korupsi, namun mereka masih terpilih kembali pada pilkada periode berikutnyaMereka adalah Bupati Rembang Mochamad Salim, Bupati Kepulauan Aru Theddy Tengko, Bupati Lampung Timur Sartono, Wabup Bangka Selatan Jamro HJalil, dan Gubernur Bengkulu Agusrin MNajamudin.

Apa yang disimpulkan dalam hasil survei itu? Ghazali menambahkan, perlu adanya perubahan aturan dalam tata cara pilkadaUsul agar pilkada dikembalikan ke pola lama, yakni dipilih langsung oleh DPR, bisa dipertimbangkanNamun, usul agar ada revisi mengenai mekanisme pilkada dalam UU Pemda adalah wacana yang lebih baik"Persyaratan dan sanksi harus diperketat, perlu juga diatur batasan dana kampanye," tandas Ghazali(bay/c3/tof)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Batasi Parpol Dianggap Kekerasan Politik


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler