PPDB Sistem Zonasi: Jarak Rumah ke Sekolah Lebih Penting Dibanding Nilai UN

Sabtu, 22 Juni 2019 – 07:42 WIB
Siswa SD. Foto: Jawa Pos Group/dok.JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Penerimaan peserta didik baru alias PPDB 2019 sistem zonasi mendapat kritikan banyak pihak. Terutama tentang aturan jarak antara domisili siswa dengan sekolah.

Hal itu menimbulkan stigma bahwa jarak rumah siswa dengan sekolah lebih penting dibanding nilai atau prestasi yang harus diraih. Sebab, siswa yang berdomisili di dekat sekolah “wajib” diterima. Sebagaimana amanat Permendikbud Nomor 51 Tahun 2018 tentang PPDB.

BACA JUGA: Sudah Lelah Perjuangkan Anak Ikut PPDB Sistem Zonasi, Akhirnya Daftar ke Sekolah Swasta

Peneliti literasi dan pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta Roni K. Pratama mengungkapkan, kondisi itu membuat para orangtua siswa ketar-ketir. Sebab, seberapa pun kecerdasan akademik anak jika jarak rumah dengan sekolah impiannya jauh, maka hal itu akan sangat sulit terwujud.

Sehingga anak tersebut harus rela bersekolah di lokasi yang dekat dengan domisilinya. Meski si anak tak begitu minat. Demikian pula sebaliknya. Peserta didik berlatar belakang akademik yang “mengkhawatirkan” justru punya peluang lebih besar untuk diterima di sekolah favorit. Asal rumahnya dekat dengan sekolah terkait. Alias masuk zona sekolah tersebut.

BACA JUGA: PPDB 2019 Gaduh, Tetapi SMPN Satap Diuntungkan

BACA JUGA: Antre Pendaftaran PPDB, Emak – emak: Kamu Baru Datang Mau Nyelonong!

Melihat kondisi itu Roni khawatir jika pada akhirnya sistem zonasi semata-mata hanya berorientasi jarak terdekat. Antara rumah siswa dengan sekolah. Karena radius menjadi pertimbangan utama pemilihan sekolah. "Maksud sistem ini sesungguhnya baik karena ingin menyetop stereotipe dikotomi sekolah unggulan dan sekolah pinggiran,” ungkapnya.

BACA JUGA: Antre Pendaftaran PPDB, Emak – emak: Kamu Baru Datang Mau Nyelonong!

Kendati demikian, Roni menilai pemerintah terlalu tergesa-gesa dalam menerapkan kebijakan. Dengan memukul rata keadaan. Di sisi lain Roni melihat masih banyak hal yang harus diperbaiki. Terutama kualitas sekolah dan pendidik.

"Seharusnya kualitas sekolah diperbaiki sekaligus diperkokoh terlebih dahulu. Baik sarana maupun prasarananya, secara sistematis dan komprehensif," kritik Roni.

Roni memandang penerapan sistem zonasi sekolah tampak sebagai kebijakan kurang matang. Orientasinya masih ‘ganjil’ diterapkan di tengah kondisi kualitas sekolah yang beraneka rupa.

"Zonasi, menurut saya, perlu dibarengi terlebih dahulu dengan kesungguhan perbaikan kualitas akademik secara total agar gap di antara sekolah terhapus,” usulnya.

Masih adanya gap kualitas akademik tiap-tiap sekolah itulah yang menyebabkan penerapan sistem zonasi saat ini tak bisa optimal. Wacana penyetaraan kualitas dan mutu sekolah pun masih jauh panggang dari api.

Kekhawatiran soal jarak zonasi dialami Diyah Ayu, salah satu orang tua siswa di Sleman. Diyah merasa gamang seandainya anaknya tak diterima di sekolah yang dikehendaki. Lantaran jarak rumahnya cukup jauh dari sekolah terkait. Walaupun ada sekolah negeri yang dekat rumah, menurut Diyah, kualitasnya tidak terlalu baik.

"Kalau tidak bisa ke negeri ya terpaksa ke swasta walaupun biaya yang dikeluarkan juga cukup banyak," katanya.

Terpisah, Kepala Sekolah SMPN 4 Depok Lilik Mardiningsih menyatakan, pendidikan bukan hanya milik mereka yang punya uang dan yang pintar. Sebab, konsep pendidikan adalah untuk mencerdaskan anak. "Semua punya hak yang sama," tegasnya.

BACA JUGA: Sudah Lelah Perjuangkan Anak Ikut PPDB Sistem Zonasi, Akhirnya Daftar ke Sekolah Swasta

Lilik punya pandangan lain terkait sistem zonasi. Menurutnya, anak dengan nilai rendah yang diterima di sekolah dekat rumah tidak akan mengubah kualitas sekolah tersebut. "Setidaknya bisa dilihat tiga tahun ke depan. Apakah ada penurunan prestasi atau tidak. Kalau ada penurunan harus ada evaluasi,” ujar Lilik. “Kalau memang seperti itu berarti pelayanan kepada anak yang tidak benar," tambahnya.

Lilik mengaku paham dengan kekhawatiran orangtua siswa terkait sistem zonasi. Ihwal anak berprestasi yang justru tidak bisa masuk sekolah unggulan. Dia melihat sejauh ini kualitas pendidikan di Sleman sudah mulai merata. Sehingga, sekolah dimana pun juga tidak menjadi masalah. (har/yog)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Ketum Ikatan Guru Tuding Pemda Sumber Kisruh PPDB


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler