Sejarah Masuknya Orang Tionghoa ke Jakarta (1)

Rabu, 19 April 2017 – 14:09 WIB
Pecinan di Batavia pada zaman Belanda. Foto: Dok.KITLV

jpnn.com - SOUW BENG KONG bersetuju dengan Jan Pieterszoon Coen. Orang-orang Cina di Banten akhirnya hijrah ke Batavia--kota baru yang dibangun Belanda. Pelabuhan Banten berangsur lengang. Batavia pun menjelma jadi bandar rempah terbesar di dunia.

Wenri Wanhar - Jawa Pos National Network

BACA JUGA: Senarai Historis Penyair Bugis

Dalam arsip awal VOC di Batavia kerap muncul nama Bencon, tangan kanan Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen.

"Bencon adalah Beng Kong. Souw Beng Kong…" tulis Phoa Kian Sioe, dalam buku Sedjarahnja Souw Beng Kong. Terbit medio 1950.

BACA JUGA: Hario Kecik & Festival Film Asia Afrika

Phoa Kian Siaoe, sebagaimana disebutkan N.V Penerbit dan Pertjetakan Reporter Djakarta dalam pengantarnya, adalah, "anak Djakarta, jang mempunjai hubungan rapat dengan orang-orang terkemuka di zaman dahulu kala."

Dan di awal tulisannya, Phoa Kian Siaoe menulis, kisah ini bersumber, "dari tjatatan2 jang tersimpan oleh orang2 jang usianja djauh lebih tua dari saja. Djuga tjatatan2 dari Kongkoan…"

BACA JUGA: Tan Malaka di Gedung DPR

Antara Banten dan Batavia

Phoa Kian Siaoe membuka kisah dengan menggambarkan masa-masa ketika Pelabuhan Banten ramai dikunjungi kapal-kapal dagang dari Eropa dan Asia, termasuk Cina.

Sepanjang tahun pada bulan Februari hingga April, banyak pelaut dari Tiongkok ke Banten, "dengan perahu Djonknja, memuat barang-barang buatan Tionghoa dan kembali lagi ke negaranja dengan hasil bumi. Lada, kopra dan seterusnya…"

Di Banten, banyak pula orang Cina yang kemudian menetap. Mereka bermukim di sebuah kampung, "jang dikitari oleh pohon bambu. Achirnja pohon bambu itu mendjadi terkenal dengan nama bambu tjina."

Dalam perkembangannya, muncullah seorang lakon berpengaruh bernama Souw Beng Kong. Dia cukup dekat dengan Sultan Banten.

"Selainnja mendjadi saudagar besar, Souw Beng Kong pun memiliki kebon-kebon lada jang luas sekali," tulis Phoa Kian Siaoe.

Dengan Souw Beng Kong lah pedagang-pedagang dari Portugis, Inggris, Belanda dan lain sebagainya yang ingin membeli hasil bumi di Pelabuhan Banten banyak berurusan. Termasuk merundingkan harga.

***

30 Mei 1619. VOC--kamar dagang Belanda--menguasai Batavia. Sang Gubernur Jenderal VOC Jan Pieterszoon Coen membujuk agar Souw Beng Kong beserta seluruh orang Cina di Banten pindah berniaga ke Batavia.

Tak mudah. Iming-iming yang besar tak serta merta melunakkan hati Beng Kong. Namun Coen tak menyerah. Bujuk rayu terus dilancarkan.

Karena satu dan lain hal, orang-orang Cina di Banten pun berunding.

"Dalam kumpulan itu," tulis Phoa Kian Siaoe, "telah diambil suatu keputusan agar Souw Beng Kong dan Lim La (dijuluki Scoenmaker van Bantam oleh Belanda) berangkat lebih dahulu ke Djakarta."

Kemudian, "apabila Belanda benar memegang djandjinya, jaitu mendjamin hidupnja bangsa Tionghoa dengan baik, maka lain-lain bangsa Tionghoa di Banten akan segera pindah ke Djakarta."

Pendek kisah…

Akhir 1622, orang Cina yang tadinya berjumlah 400 orang di Batavia menjadi seribuan.

"Souw Beng Kong oleh Jan Pieterszoon Coen diangkat mendjadi Kapten kepala bangsa Tionghoa (11-10-1619)," tulis Phoa Kian Siaoe.

Melalui besluit tertanggal 24 Juni 1620, Beng Kong diberikan kedudukan dalam College van Schepenen. Dan dilantik pada 18 Agustus 1620.

Atas keputusan itu, sebagaimana dikisahkan Phoa Kian Siaoe…

Pemerintah Belanda di negeri Belanda dalam suratnja jang ditudjukan kepada Gouverneur Generaal Jan Pieterszoon Coen antara lain mengatakan sebagai berikut: …Pengangkatan tuan Bencon sebagai anggauta College van Schepenen, pemerintah Belanda telah membenarkan.

"Kedudukan Souw Beng Kong dalam madjelis bukan sadja diminta adpis-adpisnja, tetapi dapat djuga memutuskan perkara-perkara bangsa Tionghoa jang diadjukan ke dalam madjelis itu," tulis Phoa Kian Siaoe.

Belanda menerapkan strategi yang tepat. Pasar rempah-rempah pindah ke Batavia. Pelabuhan Banten berangsur lengang.  

Beng Kong kian dimanjakan. Dia diberi lahan begitu di daerah Penjaringan (kini masuk wilayah Jakarta Utara).

Bagaimana kisah selanjutnya? --bersambung (wow/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Perempuan Berkebaya di Laman Google Kemarin Siapa Ya?


Redaktur & Reporter : Wenri

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler