Sepak Bola Gajah Terheboh, Persipura Menang 12-0 atas Persebaya

Jumat, 01 Juli 2016 – 00:34 WIB
PELUNCURAN BUKU: Slamet Oerip Prihadi dan sejumlah mantan pemain Persebaya di Surabaya, Rabu (29/6). Foto: MIFTAKHUL FAHAMSYAH/Jawa Pos

jpnn.com - KABAR tersebut didengar Mettu Duaramuri entah dari mana. Yang pasti, kapten Persipura Jayapura itu segera mendekati gelandang Persebaya Surabaya Seger Sutrisno yang sama-sama berada di tengah lapangan. 

MIFTAKHUL F.S., Surabaya

BACA JUGA: Di Sini, Senjata dan Narkoba Sudah Digaris Merah

”Kakak, golnya kurang,” kata Mettu.

”Lho, jangan ngomong ke saya. Sana ke kapten,” kata Seger. 

BACA JUGA: Panjatlah Tebing Batu dan Dapatilah Air Terjun Eksotis

Sementara percakapan itu terjadi, laga Persebaya versus Persipura di Gelora 10 Nopember, Surabaya, terus berlangsung. Mutiara Hitam –julukan Persipura– sudah unggul 8-0 atas Green Force, sebutan Persebaya.       

Tapi, Mettu merasa kemenangan tersebut belum aman. Di era ketika telepon seluler, apalagi internet, belum ada, tiba-tiba saja dia mengaku ”mendengar” kabar di Makassar bahwa PSM sudah menang 6-0 atas Perseman Manokwari. 

BACA JUGA: Beginilah Cara Teman Ahok Membuktikan Validitas KTP Dukungan, Wow!

Kalau sampai menang lebih banyak daripada Persipura, PSM Makassar-lah yang akan lolos ke babak enam besar Kompetisi Perserikatan.

Karena itu, atas saran Seger tadi, Mettu pun berlari-lari kecil mendekati Muharram Rusdiana, kapten Persebaya. Mengulang apa yang dia sampaikan ke Seger. Konklusi dari diskusi di tengah pertandingan itu, disepakati perlu tambahan empat gol lagi. 

”Jadilah (kiper Persebaya, Red) Usnadi terbang ke atas saat bola ditendang ke bawah. Dan jatuh ke bawah ketika bola ditendang ke atas,” kenang Seger yang disambut tawa hadirin di peluncuran buku Sepak Bola Gajah Paling Spektakuler karya duet Slamet Oerip Prihadi dan Abdul Muis di JX International, Surabaya, Rabu (29/6). 

Buku karya dua mantan wartawan Jawa Pos tersebut memang mengungkap kisah-kisah di balik salah satu peristiwa paling menghebohkan di persepakbolaan nasional itu: mengalahnya Persebaya 0-12 kepada Persipura. 

Rekor dunia ”sepak bola gajah” yang tercipta pada 21 Februari 1988 tersebut dirancang dengan tujuan utama: membalas dendam kepada PSIS Semarang, musuh terbesar Persebaya ketika itu.

”Meski rekor dunia, ternyata tak mudah menuliskannya. Data minim. Jadi, kami juga harus menemui kembali para pelaku sejarah itu,” kata Suhu, sapaan akrab Slamet Oerip Prihadi.

Menengok kembali peristiwa kekalahan selusin gol itu sekarang, jelas Suhu, tidak dimaksudkan sebagai glorifikasi atas sesuatu yang oleh semua pelakunya diakui melanggar fair play. Melainkan upaya mendokumentasikan sebuah peristiwa besar di persepakbolaan tanah air sebagai tempat berkaca kelak. 

Bagi para mantan pemain Persebaya yang menjadi pelaku sejarah, sepak bola gajah memberi mereka kesempatan guyon atas berbagai kejadian mengundang tawa di sekitar peristiwa tersebut. 

”Saya ingat betul, saat itu, tiga hari sebelum pertandingan, kami dikumpulkan Pak Agil (Agil H Ali, manajer Persebaya kala itu, Red) di Hotel Majapahit,” ungkap Muharram. 

Almarhum Agil memang bisa dibilang ”otak intelektual” sepak bola gajah tersebut. Di hadapan semua pemain Persebaya, Agil menegaskan bahwa Green Force harus menyelamatkan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). 

Caranya ialah memberikan kemenangan kepada Persipura. Atau dengan kata lain Persebaya harus mengalah di depan pendukung sendiri.

Agil berargumen, Indonesia bisa goyah kalau warga Irian Jaya (kini Papua) dibiarkan larut dalam kesedihan seiring terdegradasinya Perseman. Dan, di sisi lain, Persipura tidak lolos ke 6 besar Kompetisi Divisi Utama. 

”Kata Pak Agil, permintaan ini tidak hanya datang dari pengurus Persebaya. Tapi juga dari seluruh masyarakat Surabaya,” ungkap Muharram. 

Para pejabat di Surabaya dan Jawa Timur juga menginginkan itu. ”Bahkan, kata Pak Agil, maaf, para pelacur di Dolly saja menginginkan kami ngalah demi NKRI,” sebut Muharram yang disambut tawa hadirin.

Permintaan tersebut tidak hanya disampaikan melalui lisan, tapi juga tulisan. Agil menunjukkan surat-surat itu kepada para pemain. 

”Kami tersentuh dengan itu. Meski belakangan kami tahu bahwa sebagian surat itu ditulis sendiri oleh Pak Agil hehehe,” tambah Mustaqim, mantan pemain Persebaya lainnya dalam acara yang sama.  

Namanya diminta turut menyelamatkan negara, jelas semua bersepakat. Tapi, bersepakat itu ternyata tidak berarti semua mau turun ke lapangan. 

”Saat Pak Agil bilang siapa yang mau main, saya spontan angkat tangan. Eh, setelah lihat kanan-kiri, lha kok saya sendirian (pemain senior, Red) yang ngacung,” aku Muharram.

Nama-nama seperti I Gusti Putu Yasa, Subangkit, Rae Bawe, Budi Yohanes, Syamsul Arifin, dan Mustaqim memilih menyimpan tangannya. Begitu pula kapten Nuriyono Hariyadi. Jadilah Muharram satu-satunya pemain senior yang turun ke lapangan. 

Ban kapten pun disematkan di lengannya. Sebab, pemain lain yang berlaga adalah para penggawa junior. Termasuk kiper ketiga Eddy Mudjiarto. 

Sehari sebelum pertandingan, Muharram dan tiga rekannya dikumpulkan lagi oleh Agil di Hotel Majapahit. Satu di antara tiga rekannya itu adalah Zainal Suripto. Zainal inilah yang kemudian saat pertandingan terkena kartu merah. 

Muharram menyebutkan, kartu itu juga bagian dari skenario. Sebab, dalam pertemuan tersebut, Zainal memang diinstruksi untuk mengganjal keras pemain Persipura di kotak penalti. 

Skenario itu juga diketahui para pemain Mutiara Hitam. Sebab, empat pemain mereka ikut pertemuan di Hotel Majapahit tersebut. 

Meski sepakat mengalah, dalam skenario itu tidak disebutkan harus ngalah berapa. Pokoknya hanya disebut kalah sebanyak-banyaknya. 

”Karena itu, saat kami kebobolan tiga gol, kami yang di pinggir lapangan bersemangat meneriaki ’kurang, kurang’,” sebut Mustaqim. 

Penonton di tribun juga demikian. Bersorak tiap Persipura membobol gawang tim idola mereka. ”Pokoke Eddy sampai kelempoken gol lah,” imbuh Mustaqim menyebut nama kiper Persebaya yang kemudian digantikan Usnadi setelah kebobolan delapan gol itu.  

Suporter Persebaya tidak marah karena memang menginginkannya. ”Padahal, kalau situasinya normal, kalah segitu banyak bisa-bisa gawang kami hilang,” canda Usnadi. 

Pria 57 tahun tersebut tidak asal berkelakar. Saat dirinya diturunkan di sebuah turnamen dan kebobolan lebih dari satu gol, penonton melempari gawangnya dengan aneka sampah. 

”Bayangkan, kami kemasukan 12 gol, apa tidak bakal digotong gawangnya sama penonton yang marah?” kelakarnya lagi.

Usnadi mengungkapkan, ketika diturunkan menggantikan Eddy, sebenarnya tak ada instruksi agar dirinya tidak serius. Misalnya sengaja menjatuhkan bola yang sudah ditangkap. Atau bergerak ke kiri saat bola ditembak ke kanan gawang. Tapi, ya itu tadi, gara-gara dianggap belum aman, jadilah dia melompat ke atas saat bola ditembak mendatar. Dan menjatuhkan diri saat bola ada di atas. 

Dukungan penuh publik Surabaya itulah yang juga memberikan andil segera lenyapnya rasa sedih para pemain. Semua pendukung Persebaya maklum dengan langkah Persebaya. ”Apalagi, saat itu juga tidak ada ancaman sanksi dari FIFA atau PSSI. Jadi, kami tenang-tenang saja,” kata Seger. 

Seperti juga tertulis di buku, pada musim sebelumnya, sepak bola gajah sebenarnya juga dipraktikkan Perseman dan Persib Bandung di babak 6 besar. 

Praktik pengaturan hasil pertandingan tersebut juga diduga dilakukan Spanyol dan Malta pada kualifikasi Piala Eropa 1984. Tak ada sanksi untuk dua peristiwa itu.  

Namun, pemakluman publik Surabaya tadi tetap menuntut syarat: Persebaya harus juara. Syarat yang tidak berlebihan. Sebab, Persebaya memiliki modal lengkap untuk merealisasikan ambisi. Materi pemain tim asal Kota Pahlawan itu paling komplet. Kualitasnya berada di atas semua kontestan Divisi Utama. 

Wali Kota Surabaya Poernomo Kasidi juga sampai berkoar, kalau tidak juara, dirinya akan mundur dari jabatannya. ”Beliau bahkan sampai memindah kantornya dari Jimerto (Balai Kota Surabaya) ke HI (Hotel Indonesia), Jakarta. Semua aktivitas pekerjaannya dilakukan di HI,” kisahnya. 

Dan, setelah sempat dicaci maki pencinta bola Indonesia serta begitu dibenci warga Semarang dan Jawa Tengah, Persebaya akhirnya keluar sebagai juara. Gelar digenggam setelah di final Green Force membungkam Persija Jakarta 3-2 pada 27 Maret 1988. (*/c9/ttg)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Ssst...Dua Cantik Ini Personel Brimob Penjinak Bom


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler