Seperti Diabetes, Alam Bali Cantik tapi Perlahan Digerogoti

Senin, 10 Desember 2018 – 06:35 WIB
Gunung Batur di Bali. Foto: Natalia Laurens/JPNN

jpnn.com, BALI - Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion (P3E) Bali Nusa Tenggara di bawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menaruh perhatian khusus terhadap kelestarian lingkungan alam di Pulau Dewata.

Menurut Kepala P3E Bali Nusra Rijaluzzaman tanpa disadari semua kalangan, saat ini keindahan alam Bali yang menawan mulai terkikis dengan kerusakan lingkungan.

BACA JUGA: Slurrrp...Yuk Coba Minum Jus Cacing

Ini akibat ulah manusia sendiri yang tidak seutuhnya menjaga kelestarian alam di Bali.

"Bali ini seperti kena penyakit diabetes. Kelihatannya masih cantik padahal di balik itu sedang digerogoti dengan berbagai masalah lingkungan," ujar pria asal Sumatera Barat tersebut pada JPNN.

BACA JUGA: Tambang Galian C Bikin Lereng Gunung Batur Tak Lagi Hijau

Rijal membuka semua masalah yang kini dihadapi lingkungan di wilayah Bali.

BACA JUGA: Keren! P3E Bali Nusra, Kantor yang Terapkan Eco Office

Kepala P3E Bali Nusra Rijaluzzaman saat memimpin rapat dengan beberapa pihak terkait di kantornya

Pertama mengenai tambang galian C di lereng Gunung Batur di Kintamani, Bangli. Akibat tambang itu, lereng gunung yang seharusnya diisi dengan kawasan hijau jadi berlubang di sana sini karena pengerukan pasir.

Hampir setiap hari, kata Rijal, terlihat beberapa eskavator melakukan aktivitas tambang melalui pengerukan tersebut.

Dikhawatirkan aktivitas ini membuat lahan mudah lahan mudah longsor dan terjadi erosi.

Kemudian masalah Danau Batur yang dikhawatirkan tercemar akibat aktivitas di sekitarnya.

"Untuk itu kami sudah melakukan kajian dan memberi rekomendasi pada pemerintah setempat agar bersama kita kembalikan fungsi ekologis di sekitar Danau Batur," imbuh Rijal.

P3E bersama masyarakat dan penggiat lingkungan juga mengembali fungsi di sekitar Danau Batur melalui penanaman tanaman pertanian di sekitar danau.

Dalam hal ini, masyarakat diingatkan untuk tidak menggunakan pupuk pestisida dan kimia lainnya yang bisa mencemari danau.

Termasuk membuat sarana Ipal di fasilitas umum samping danau sehingga masyarakat bisa menghemat air sekaligus mencegah pencemaran air danau yang menjadi sumber air warga sekitar.

P3E Bali Nusra juga mencatat adanya kerusakan ratusan tanaman mangrove di dekat proyek pembangunan dermaga di Pelabuhan Benoa, Bali.

"Yang rusak adalah mangrove yang dekat pelabuhan itu. Bukan yang di tahura. Jadi kalau kita lihat dari luar sepertinya masih bagus hijau, tapi kalau jalan ke dalam yang sudah banyak yang rusak," jelas Rijal.

Padahal, kata Rijal, mangrove adalah salah satu jenis tanaman yang menjaga ekosistem lingkungan

"Bisa dibayangkan jika mangrove rusak. Seperti apa wajah Bali nanti?" sambungnya.

Untuk mengatasi berbagai masalah alam dan lingkungan ini, P3E Bali Nusra sudah terjun langsung ke lapangan mencatat berbagai fakta dan masalah untuk dicarikan solusi bersama pihak terkait.

Dalam hal ini dengan pemprov, pemda setempat, ESDM, dinas pariwisata, dan perusahaan sebagai pemerkarsa proyek.

Dalam rapat yang dipimpinnya dengan para pihak terkait tersebut, Rijal juga mengingatkan semua tugas dan fungsi masing-masing lembaga yang ada.

Dia berharap segera ada solusi dari pihak terkait atas masalah tersebut. "Saya khawatir setelah semuanya bermasalah baru kita sadar.Bagaimana kita selesaikan ini segera. Kita butuh pembangunan tapi ingat alam juga harus dijaga," tegasnya. (flo/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Denda 1 Ton Beras untuk Pemilik Anjing Rabies


Redaktur & Reporter : Natalia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler