Seperti Inilah Hari-hari Pertama Martunis di Sporting Lisbon

Senin, 06 Juli 2015 – 06:19 WIB
MOMEN BERSEJARAH: Martunis saat diperkenalkan sebagai anggota akademi Sporting Lisbon Rabu lalu (1/7). (Mirror)

ACARA peringatan hari ulang tahun Sporting Lisbon di Coliseu dos Recreios, Rabu lalu (1/7) terasa spesial. Sebab, ulang tahun klub elite Portugal itu sekaligus mengukuhkan Martunis sebagai penghuni baru akademi klub yang berlokasi di Alcochete tersebut. Bagaimana Martunis menikmati hari-harinya di Portugal?
-------------
Matahari pagi pada Kamis lalu (2/7) akan selalu diingat dalam hidup Martunis. Sebab, itulah sinar matahari pertama yang dia rasakan di Kota Lisbon. Martunis datang sebagai salah seorang siswa didik di Akademi Sporting Clube de Portugal alias Sporting Lisbon.

Jersey hijau putih masih ada dalam genggaman dia. Walaupun sekadar undangan untuk berlatih bersama dengan akademi yang melambungkan nama Cristiano Ronaldo itu selama setahun, bocah yang lahir di Desa Tibang, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh, 17 tahun silam tersebut sudah serasa menjadi bagian Leoes –julukan Sporting.

BACA JUGA: Yuli Yanika, Sudah Biasa Ngebut saat Membawa Jenazah

Apalagi, pada malam sebelumnya, dia diperkenalkan kepada fans layaknya seorang superstar. ’’Ada perasaan bangga yang luar biasa. Saya merasa tersanjung dengan kehormatan ini. Seperti mimpi yang menjadi kenyataan, terima kasih Sporting,’’ ujar Martunis kepada Jawa Pos dalam wawancara via pesan elektronik kemarin.

Namun, di balik glamornya malam perkenalan dia sebagai pemain akademi Sporting itu, ada perasaan di dalam lubuk hati Martunis. Ya, Martunis mengatakan bahwa dirinya sempat merasakan kebosanan saat pertama tiba di Lisbon pada Selasa lalu (30/6). Dia merasa sendirian di ibu kota Portugal tersebut.

BACA JUGA: Upaya Tim Peneliti UI Menawarkan Air Laut dengan Limbah Tahu-Tempe

Namun, begitu namanya menjadi buah bibir di kalangan fans Sporting dan menjadi pemberitaan media internasional, kebosanan itu berubah menjadi keceriaan.

’’Sekarang banyak yang mengunjungi saya di asrama di Alcochete. Kedatangan mereka membuat saya bersemangat lagi,’’ ungkapnya.

BACA JUGA: Wow, Begini Rasanya Melintas Tol Cipali yang Bersolek Menjelang Arus Mudik

Martunis menuturkan, rata-rata yang mengunjungi dirinya adalah fans dan pemain-pemain sesama binaan akademi Sporting. Kebanyakan mereka orang Portugal.

’’Mereka bahkan memberikan alamat e-mail dan Facebook-nya kepada saya. Kalau perlu apa-apa, saya bisa kontak mereka. Dengan senang hati, mereka membantu saya selama di Portugal,’’ lanjutnya.

Teman-teman baru Martunis semakin banyak begitu para pemain binaan akademi Sporting berdatangan pada Jumat kemarin waktu setempat (3/7). Jumat itu adalah hari pertama akademi Sporting memulai aktivitas setelah beberapa hari menjalani masa liburan.

Dia mengatakan, walaupun ini kali kedua dirinya berkunjung ke Portugal, kendala bahasa menjadi hal yang paling menyulitkan untuk berkomunikasi. Untuk berbahasa Inggris, dia mungkin masih bisa dibantu pendampingnya, Munawardi Ismail.

Tetapi, tidak demikian untuk bahasa Portugis. Mentok, Martunis hanya bisa menyapa setiap kenalannya. Untungnya, pihak klub memberikan fasilitas guru les privat yang mengajari Martunis untuk berbahasa Portugis. Tidak hanya menjadi pembimbing, guru les tersebut juga menjadi penerjemah setiap Martunis kedatangan tamu di asramanya.

Saking banyaknya tamu yang bermain ke asramanya, Martunis sampai belum punya waktu untuk mengisi waktu luang. Walaupun, itu sekadar menikmati jalan-jalan di Kota Lisbon.

’’Selama lima hari di Lisbon, saya sekali keluar asrama. Itu pun saya lakukan pas malam gala itu,’’ ungkapnya.

Atmosfer sepak bola Lisbon disebut Martunis sudah bukan hal baru lagi. Sekitar empat atau lima bulan lalu dia intens menjalin komunikasi dengan fans Sporting yang tergabung dalam Cortina Verde.

’’Mereka juga yang mengirimi saya jersey ketiga Sporting dengan nama punggung Martunis CR dan bernomor punggung 28,’’ bebernya. Di kalangan fans, Martunis disapa CR8.

Martunis tidak ingin sekadar menimba ilmu di Lisbon. Dia kepada Munawardi kerap mengutarakan mimpinya mengikuti jejak Ronaldo. Keinginan itu pun sempat diutarakan kepada dua wartawan Portugal saat datang di Aceh meliput satu dekade tsunami.

Munawardi yang juga kakak asuh Martunis membenarkan hal itu. Pemberitaan dari media-media nasional maupun internasional tentang Martunis, si bocah korban tsunami anak angkat Ronaldo bergabung ke Sporting, bagaikan dua mata pisau. Di satu sisi, itu bisa membuat Martunis semakin terpacu. Tetapi, di sisi lain, itu bisa mematikan motivasi Martunis karena sudah merasa sampai di titik puncak.

Sebagai orang terdekat dengan Martunis selama delapan tahun ini, Munawardi tidak pernah berhenti mengingatkan dia tentang itu.

’’Sebab, apa yang terjadi pada malam gala itu hanya permulaan, belum menjadi pemain profesional. Dia di sini hanya untuk kontrak belajar di akademi. Saya terus ingatkan dia bahwa untuk menjadi pemain sepak bola profesional perlu kerja keras,’’ ingat Munawardi. (ren/c4/bas)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Jangan Main-Main! Telepon Pemain, Pelatih, dan Ofisial Klub Bakal disadap KPK


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler