Si Cantik Ini Memilih Bertani, Gemes

Minggu, 04 Desember 2016 – 00:07 WIB
Miftahul Mutmainah. Foto: Haryosudanto/Kaltim Post

jpnn.com - KERJA kantoran merupakan pilihan banyak orang, termasuk kalangan perempuan.

Namun tidak demikian dengan Miftahul Mutmainah. Dia mantap terjun ke dunia agrobisnis. Sengatan terik matahari sudah seperti teman dalam kesehariannya.  

BACA JUGA: Pak JK Menjemput Presiden, Payung Biru Itu Trending Topic

Haryosudanto - Balikpapan

Jam di dinding menunjukkan pukul 20.00 Wita. Malam itu, Kaltim Post (Jawa Pos Group)  tengah menunggu seseorang di kediamannya di Jalan Cendrawasih II, Inpres IV, Balikpapan.

BACA JUGA: Hujan, Takbir, dan Tangisan Haru...Jamaah Padang Carter Pesawat

“Assalamualaikum,” sapa seseorang dari balik pintu.

Muncul sosok perempuan berjilbab. “Iya benar saya Puput, Kak,” ucapnya.

BACA JUGA: Kisah Yunita, Anak Nelayan Kuliah di Inggris

Inilah seseorang yang sudah berjanji menemui Kaltim Post. Perempuan bernama lengkap Miftahul Mutmainah ini sangat ramah mengawali obrolan, malam itu.

“Maaf menunggu lama. Saya tadi baru pulang dari kebun di Km 32. Ini rutinitas yang biasa saya jalani setiap hari. Pagi pukul 07.30 Wita saya sudah bersiap berangkat memulai aktivitas menanam dan perawatan sayuran di sana. Biasanya bareng kakak menuju ke sana,” tuturnya.

Sepintas tebersit pikiran, bagaimana perempuan yang masih muda, bisa bertahan dengan rutinitas seperti itu.

Jarak jauh yang ditempuh dan juga kegiatan melelahkan menanam sayuran pasti menguras fisik. Belum lagi panas matahari bisa membakar kulit.

Puput kemudian mulai bercerita bagaimana awal mula terjun ke bidang agrobisnis.

Dia menamatkan studi S-1 di Sekolah Tinggi Teknik Lingkungan (STTL) Jogjakarta (Sekarang bernama Institut Teknologi Yogyakarta/ITY) pada akhir 2015.

Awal 2016, perempuan ini memilih kembali ke Balikpapan. Selama berada di tanah kelahirannya, ia sempat melamar pekerjaan di beberapa perusahaan.

“Pada saat menunggu panggilan itu, waktu kosong saya banyak. Saya mulai berpikir bagaimana cara mengisi waktu dengan kegiatan bermanfaat. Kemudian, saya tertarik untuk mencoba membuat hidroponik. Saya merogoh kocek pribadi dari hasil uang tabungan sendiri. Lumayan juga sekitar Rp 2 juta untuk modal membuat hidroponik tersebut,” ungkap perempuan berparas ayu ini.

Memanfaatkan lahan kosong yang berada di samping rumah, Puput kemudian mulai membangun instalasi hidroponiknya.

Ia mencoba menanam pak coy (sawi daging), seledri, dan tomat. Berbulan-bulan menunggu sambil terus merawatnya, akhirnya semua sayuran siap dipanen.

“Saya senang sekali ketika masa panen tiba. Tanaman yang berbulan-bulan saya rawat akhirnya bisa diambil. Waktu itu rasanya sangat puas. Hasil panen tersebut kemudian saya coba tawarkan ke kerabat dekat maupun teman. Alhamdulillah meskipun tidak terlalu banyak hasil panen, tapi uang pertama dari hasil penjualan menambah motivasi untuk menggeluti bidang ini,” ujarnya.

Usaha yang ingin dirintisnya ini nyatanya tidak berjalan mulus. Pada pertengahan 2016, ia sempat vakum dikarenakan ada satu lain hal yang tidak bisa disebutkan.

“Justru di situlah jadi momen kebangkitan. Saya kemudian bangkit lagi dengan sisa uang yang ada. Kali ini saya fokus menanam seledri, tapi menggunakan media tanam pada umumnya saja. Tidak menggunakan hidroponik lagi,” terangnya.

Dari penjualan seledri yang ditanam, ternyata menghasilkan omzet yang lumayan.

Dalam sehari, seledri yang ditanam bisa dipanen sebanyak 6 kilogram.

Dia menyuplai ke salah satu warung bakso dan tempat makan prasmanan di Balikpapan setiap harinya.

Selain itu, dia juga menjualnya ke pedagang pasar tradisional. Per kilo, harganya Rp 30 ribu.

Melihat respons pasar yang tinggi dan juga permintaan yang setiap hari meningkat.

Perempuan yang mengidolakan Maher Zein ini lantas mulai mengembangkan usahanya.

Ia berpikir jika lahannya bisa diperluas, maka hasil panen sayuran akan mampu menuruti permintaan market.

Lantas ia memutuskan untuk menanam sayuran di kebun milik keluarga di Km 32.

“Saya sampai kewalahan memenuhi permintaan konsumen setiap harinya. Makanya akhirnya saya melanjutkan menanam seledri di sana. Memang sih jaraknya sangat jauh. Tapi, di sana saya juga dibantu oleh kakak ipar dan kakak kandung saya. Mereka sebelumnya juga sudah memulai duluan menanam sayuran di sana,” ucapnya bersemangat.

Tak hanya seledri, Puput juga sedang mencoba menanam kembang kol. Ini setelah melalui survei permintaan pasar.

Panas terik yang setiap hari menerpa baginya bukan persoalan. Meskipun lelah, namun semangat dan tekadnya bulat.

Bekerja di kantor dengan pendingin ruangan (AC) ataupun berpanas-panasan bagi dirinya itu sama saja.

“Setiap pekerjaan pasti ada risikonya masing-masing. Tinggal kita saja yang menjalani, memandangnya seperti apa. Enjoy saja menjalaninya. Usaha keras akan membuahkan hasil,” bebernya.

Ke depan, Puput punya niatan dalam hatinya. Selain mengejar keuntungan hasil berkebun, ia ingin usaha yang dirintisnya ini dapat menyerap tenaga kerja dan menyejahterakan masyarakat.

Perempuan yang sangat terinspirasi ayahnya dalam berwiraswasta ini juga membuat suatu gerakan yang diberi nama Gerakan Menanam Sayur (Gemes).

Tujuannya meningkatkan kesadaran masyarakat agar mau menanam sayur dimulai dari ruang lingkup kecil di halaman rumah atau menggunakan media tanam seperti hidroponik atau lainnya.

“Gemes ini sifatnya mengajak agar setidaknya masyarakat dapat menanam sayur-sayuran di rumahnya. Keadaan ekonomi saat ini yang sedang krisis bukan jadi penghalang untuk mengonsumsi sayuran. Gerakan ini telah kita sampaikan ke Ibu Wali Kota dan wakil wali kota pada saat acara family day menyambut Hari Kesehatan Nasional (HKN) 20 November yang lalu,” tutupnya. (*/rsh/k15/sam/jpnn)

Miftahul Mutmainah

Nama Panggilan : Puput

Tempat/Tanggal Lahir : Balikpapan, 25 Juli 1993

Hobi: Menulis dan Travelling

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Ngajual Sawah, Ngajual Kebo, Demi Jihad ka Jakarta


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler