Stadion Batakan Balikpapan, Megah Seperti Kandang Klub Eropa

Kamis, 12 Oktober 2017 – 12:56 WIB
Stadion Batakan di malam hari. Foto: Gusti Ambri/Kaltim Post

jpnn.com, BALIKPAPAN - Persiba Balikpapan sempat diolok-olok karena stadionnya. Namun, setelah Stadion Batakan hadir, semua mata memandang Kota Minyak yang kini dikenal memiliki stadion kental rasa Eropa.

Nugroho Pandu Cahyo, Kaltim Post

BACA JUGA: Angkutan Online Marak, Sopir Angkot Susah Dapat Rp 20 Ribu

Riyanto Atmojo tersenyum puas begitu duduk di tribune Stadion Batakan. Kursi yang dia dapat sungguh istimewa. Berstatus very very important person (VVIP). Dia mendapat posisi menonton terbaik. Para petinggi daerah, yang juga di kursi VVIP, hanya tiga meter dari kursi Yanto.

Sudah lama sekali Yanto tak berniat menonton Persiba dari dekat. Kesulitan berjalan membuatnya enggan datang ke markas lama Persiba di Stadion Parikesit. Bayang-bayang mengantre tiket, naik turun tangga, hingga berdesakan mencari tempat duduk, membuatnya ogah. Namun, begitu mendengar Stadion Batakan dilengkapi fasilitas untuk penyandang disabilitas, Yanto tak sabar mencoba.

BACA JUGA: Usai Kubur Anak, Lutfi Ditangkap Polisi

Minggu (1/10), pria 49 tahun itu turun dari Honda Vario merah di tempat parkir lantai dasar stadion. Dia cukup berjalan sepuluh meter untuk mencapai lift. Keluar dari situ, Yanto berjalan 15 meter lagi menuju tempat duduk. Penyandang disabilitas akan mendapat kursi VVIP.

BACA JUGA: Brutal, Ali Tikam Dada 2 Pemuda

Riyanto memasuki lift menuju tribun yang menyediakan kursi untuk penyandang disabilitas. Foto: Gusti Ambri/Kaltim Post

Pandangan Yanto segera menyapu lapangan. Persiba Balikpapan siap menjamu Persib Bandung. Semenit kemudian, wasit meniup peluit. Untuk pertama kali dalam hidup, Yanto bersorak-sorai bersama 17 ribu penonton. “Ternyata memang nyaman," ucap Yanto ketika ditemui Kaltim Post selepas pertandingan.

Meskipun kesulitan berjalan, ayah dua anak itu tidak mau menggunakan kursi roda. "Stadion ini memang hebat,” kata Yanto sembari mengabadikan momen langka baginya.

Persiba Balikpapan malam itu melakoni pertandingan pekan ke-27 Liga 1 2017. Tuan rumah hanya mampu bermain imbang 2-2. Permainan Beruang Madu memang tidak membuat seluruh penonton puas. Namun, kemegahan dari Stadion Batakan memberikan rasa berbeda.

Gedung yang baru kelar dibangun itu menampung 46 ribu penonton. Mengadopsi potret markas Arsenal, Emirates Stadium, di London, Stadion Batakan disebut paling modern di Indonesia.

Para penonton dimanjakan sejak di pintu masuk. Enam loket dibuka panitia. Jika tiket masih tersedia, antrean penonton tidak akan panjang. Kemudahan mendapat tiket akan membatasi operasi para calo, walaupun masih ada satu-dua yang berkeliaran. Lagi pula, sehari sebelum pertandingan, tiket sudah bisa dibeli di Kantor PT Anugerah Group maupun jalur dalam jaringan.

Penonton yang sudah memegang tiket, cukup antre sebentar. Mereka melewati pemeriksaan petugas barcode yang didampingi polisi. Flare dan botol minuman dilarang keras dibawa masuk. Jangan harap menyelinap karena pagar pembatas putih senantiasa dijaga. Belum ditambah mata dari 192 kamera yang dipasang di berbagai sudut. Seluruh adegan dimonitor petugas dari 12 layar di ruang kontrol.

Menuju tempat duduk, penonton disuguhi kemewahan yang lain. Lantai stadion serupa mal. Berlapis keramik putih dan cokelat muda yang selalu dibersihkan petugas. Dinding krem yang mulus dan bersih, ditambah penerangan yang lebih dari cukup, menambah keasrian. Dari pintu masuk ke tempat duduk, jarak terjauh hanya 20 meter. Setiap pintu dilengkapi penunjuk arah sehingga mustahil tersesat.

Di dalam stadion yang dibangun dengan biaya Rp 1,2 triliun, penonton dimanjakan suguhan lain. Sebagai stadion dengan desain khusus untuk sepak bola, Stadion Batakan tidak dilengkapi lintasan atletik. Mata fans Persiba pun kian nikmat karena tempat duduk sangat dekat dengan lapangan. Di sisi barat dan timur, hanya tujuh meter. Sementara itu, di utara dan selatan sedekat 12 meter. Persis Liga Inggris.

Sayang, pedagang asongan masih berkeliaran. Mereka menjajakan minuman dengan plastik. Berpotensi bikin kotor karena tempat sampah cukup jauh dari tempat duduk. Sementara itu, fasilitas pendukung stadion sudah lengkap. Umat muslim yang ingin beribadah tidak perlu keluar. Tersedia musala yang berdampingan dengan ruang istirahat. Posisi fasilitas itu di belakang tempat duduk. Semuanya ada enam, yakni dua di tribune barat, dua di timur, satu di utara, dan satu di selatan.

Kamar kecil stadion, yang juga ada enam, persis toilet mal. Tempatnya bersih, tidak menyebarkan aroma permusuhan. Setiap toilet dilengkapi tujuh wastafel dengan sabun wangi di samping keran. Ada sembilan bilik yang dilengkapi kloset. Di toilet pria, tersedia 14 tempat buang air kecil berdiri. Kamar belakang itu tak sampai 20 meter dari kursi penonton. Para bintang lapangan turut merasakan kemegahan. Ruang ganti mereka tak kalah mewah. Stadion punya empat ruang ganti sehingga dua pertandingan bisa diadakan bergantian.

Setiap ruang dilengkapi 25 loker dengan ornamen cokelat. Di dalamnya, tersedia ruang perawatan medis. Ditambah lagi sebelas kamar mandi lengkap dengan pancuran air panas. Di dekat shower, ada empat wastafel, lima toilet, dan enam tempat buang air kecil berdiri.

Seluruh fasilitas kamar ganti setara kolam renang atau tempat spa di hotel bintang empat. Sebelum pertandingan, kostum pemain dipajang di loker masing-masing layaknya ruang ganti tim papan atas Eropa. Di atas setiap loker, tersedia laci untuk menyimpan barang berharga. Sedangkan sepatu ditaruh di kolong bawah.

Sepatu-sepatu itu yang akan menjajal lapangan kelas internasional. Panggung utama stadion beralas rumput Zoysia matrella. Rumput tersebut direkomendasikan FIFA untuk negara tropis. Biasa disebut rumput manila, Zoysia matrella adalah yang terbaik untuk lapangan sepak bola. Warnanya paling pekat dan paling baik untuk gelinding bola. Wajar bila harganya Rp 80 ribu per meter persegi.

Panggung utama stadion kian menawan dengan keunggulan pencahayaan. Pada awal dan akhir pertandingan, panitia menyiapkan permainan lighting. Lampu berkekuatan 3.000 luks, setara Gelora Bung Karno, menyala dan mati bergantian.

Selalu sesuai irama lagu sakral Balikpapan Suporter Fanatik (Balistik, fans setia Persiba) berjudul Berjanji untuk Setia. Suasana stadion pun mirip Allianz Arena, kandang Juventus, klub ternama Italia. “Memang belum bisa menyamai Allianz Arena. Di sana, bola lampu bisa bergerak. Di sini belum,” kata Ferry Susanto, penanggung jawab operasional stadion dari Dinas Pekerjaan Umum Balikpapan.

Dua monitor raksasa berukuran 6x9 meter makin memanjakan mata. Sesungguhnya, layar lebar itu memutar video pertandingan secara langsung. Namun, karena belum ada regulasi di Liga 1, video tidak diputar. "Hanya penunjuk skor dan waktu,” terang Ferry.

Atas semua kemegahan itu, berduyun-duyun warga Kota Minyak datang. Dari 46 ribu kapasitas stadion, saat ini baru setengah yang digunakan. Lantai paling atas di keempat tribune belum dipakai karena masih tahap penyelesaian. Sebanyak 20 ribuan tempat duduk yang tersedia pun makin hari makin tidak cukup.

Laga perdana di Stadion Batakan ketika Persiba menghadapi Persegres Gresik United bulan lalu disesaki 10.126 penonton. Pada laga kedua menjamu Semen Padang bertambah menjadi 15.427 penonton. Puncaknya saat menghadapi Persib Bandung pekan lalu, yakni 17.451 penonton.

Komentator nyentrik yang terkenal dengan teriakan umpan LDR-nya, Valentino Simanjuntak, mengapresiasi gairah baru di Stadion Batakan. Dia menilai, stadion sangat layak menjadi markas baru timnas Indonesia. “Hanya dua jam dari Jakarta. Sarana sangat bagus. Paling penting, antusiasme masyarakat luar biasa. Tidak kalah dari Pulau Jawa," jelasnya. (fel/far/k18)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Berulang Kali Digituin Ayah, Anak Melahirkan


Redaktur & Reporter : Adek

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler