Tatkala Ibu Walikota Menangis...

Jumat, 11 September 2015 – 01:45 WIB
Puji Setyowati Syaharie Jaang (kedua dari kiri). Foto: Samarinda Pos/JPG

jpnn.com - DIKENAL sebagai sosok perempuan yang tegas dan cerdas, Puji Setyowati Syaharie Jaang  selalu bersuara lantang setiap diberi kesempatan berbicara di depan umum.

Namun istri Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang itu Kamis (10/9) kemarin, tampak berbeda. Tak ada ketegasan sama sekali. Bahkan saat memegang mikrofon tangannya seperti bergetar. Suaranya mendadak serak. Sekata dua kata di awal yang terdengar bahkan tidak jelas.

BACA JUGA: Kisah CJH Termuda Ini Akhirnya Bisa Dampingi Ayah Ikut ke Makkah Naik Haji

Tangisnya pun pecah. Sambil menitikkan air mata, dia tetap berusaha meneruskan pidatonya. Sang suami yang berada di sampingnya tidak mampu mengurangi suasana haru yang terlanjur dirasakannya.

Suasana itu tergambar ketika dia diberi kesempatan menyampaikan sepatah dua kata di hadapan para tamu yang hadir pada acara syukuran ulang tahun ke-51 Syaharie Jaang di rumah jabatan wali kota.

BACA JUGA: Perih sang Ibunda Dituduh Maling Ayam, Kini jadi Pengusaha Sukses

Dalam sambutannya, dia tidak menyangka bisa menjadi istri pendamping wali kota di Samarinda. Sebagai perantau dari Jogjakarta, Puji Setyowati awalnya memang hanya ingin mengubah nasib di Samarinda. Dia terharu dengan kisah hidup yang dialaminya. Terharu dan bersyukur. Itulah yang membuat suaranya parau dan menangis.

“Saya merantau ke Samarinda, karena di Jawa sudah tidak dipakai. Eh di Samarinda dapat suami orang Dayak, jadi wali kota lagi,” terang Puji Setyowati yang membuat para hadirin tertawa, memecah keharuan.

BACA JUGA: Tuhan Keliling Kampung Berburu Ayam

Sebelumnya, Syaharie Jaang diberi kesempatan di awal untuk menyampaikan sambutannya. Dengan suasana santai, Jaang tampak tak malu-malu membeberkan rahasia rumah tangganya kepada seluruh hadiri yang hadir saat itu. Bahkan dia pun tak segan menceritakan kehidupannya bersama sang istri ketika berada di tempat tidur atau di kamar.

Kata Jaang, selama ini dia tetap ingin berusaha untuk melakukan pekerjaan sendiri tanpa bantuan orang lain. Hal yang paling mendasar dilakukannya adalah tetap membersihkan tempat tidur. Itu dilakukannya bersama sang istri.

“Siapa yang bangun terakhir, mendapatkan hukuman membersihkan tempat tidur. Entah istri atau saya,” terang Jaang.

Di usianya pernikahannya yang memasuki usia 23 tahun, Jaang tetap bisa mempertahankan kemesraan saat bersama istri. Ini sangat wajar, apalagi dia memang hanya tinggal berdua. Karena kedua anaknya masih menempuh pendidikan di  luar daerah.

“Jadi ya, praktis pekerjaan sehari-hari kami lakukan sendiri. Kami pun punya waktu luang untuk bersama,” kata Jaang.

Meski dihadiri hampir seluruh pejabat di lingkungan Pemkot Samarinda termasuk Wakil Wali Kota (Wawali) Samarinda Nusyirwan Ismail, namun sambutan yang disampaikan Syaharie Jaang semua berisi tentang kehidupan pribadinya.

Pada kesempatan itu dia juga menggunakan momen tersebut untuk berpamitan dengan seluruh pejabat SKPD. Pasalnya, pada November mendatang masa jabatannya bersama Nusyirwan Ismail akan berakhir. Selanjutnya dia akan kembali bertarung di Pilkada Desember mendatang untuk mempertahankan melanjutkan periode kedua kepemimpinannya bersama Nusyirwan Ismail.

Karena itu, sejak waku terakhir dia pun berusaha untuk tidak melibatkan ajudan ketika ingin beraktivitas. Tujuannya ingin membiasakan kembali menjadi masyarakat biasa.

“Kalau periode pertama, masa jabatan kami akan berakhir.  Tau aja kan maksudnya,” timpal Jaang yang disambut tertawa oleh para tamu. Maklum, Jaang dan Nusyirwan memang kembali berduet di Pilkada Samarinda. Keduanya pun diprediksi akan menang mudah. (nha)

 

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Kok Nama Anak Cuman Satu Huruf? Ini Kata Ayahnya


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler