Terbukti, Kinerja Pertamina Lebih Baik Dibandingkan Perusahaan Migas Dunia

Kamis, 17 Juni 2021 – 20:22 WIB
PT Pertamina. Foto dok Pertamina

jpnn.com, JAKARTA - Kinerja PT Pertamina pada 2020 yang meraup untung Rp15 triliun, terus menuai pujian, salah satunya dari Peneliti Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Salamuddin Daeng.

Terlebih, saat pandemi Covid-19, banyak perusahaan migas dunia yang justru mengalami kerugian.

BACA JUGA: Penuhi Kebutuhan Energi Nasional, Pertamina Lakukan Terobosan

Salamuddin menilai dalam kondisi tekanan pandemi seperti sekarang, Pertamina memiliki manajemen keuangan yang lebih baik dibandingkan perusahaan migas lain.

“Dalam situasi pandemi, manajemen keuangan Pertamina lebih baik dibandingkan perusahaan multinasional. Pertamina bisa keluar dari zona keterpurukan, sedangkan perusahaan lain tidak. Bahkan, banyak perusahaan migas juga melakukan pemutusan hubungan kerja. Pertamina sama sekali tidak,” kata Salamuddin.

BACA JUGA: Perkuat Bisnis dan Permudah Ekspedisi Lintas Jawa-Sumatera, BGR Luncurkan Trans Logistics

Pada 2020, banyak perusahaan migas dunia memang mengalami kerugian. Sebut saja Shell yang merugi hingga USD 21,68 Miliar, BP yang rugi USD 20,31 Miliiar, Exxon Mobil yang mengalami kerugian hingga USD 22,44 Miliar.

Kemudian Total dengan kerugian mencapai USD 7,24 Miliar, Chevron yang rugi sampai USD 5,5 Miliar, ENI dengan kerugian USD 9,53 Miliar, dan Petronas dengan kerugian mencapai USD 5,54 Miliar.

BACA JUGA: Dijamin Halal, MLA Hadirkan Keseruan Menikmati Daging Sapi Australia

Menurut Salamuddin, laba bersih Rp15 Triliun yang diperoleh Pertamina tak lepas dari kemampuan BUMN tersebut menurunkan beban perseroan.

Dalam hal ini, beban pokok penjualan dan beban lain turun dari 46,6 menjadi 34,5.

“Penurunan mencapai USD12,1 Miliar atau Rp175,5 triliun. Jadi, luar biasa kemampuan Pertamina menurunkan beban,” imbuh Salamuddin.

Penurunan beban tersebut, menurut Salamuddin sangat penting. Terlebih, dibandingkan 2019, sebenarnya pendapatan Pertamina turun 2020 USD 13,3 Miliar. 

Dari USD 54,7 Miliar pada 2019 menjadi USD 41,4 Miliar pada 2020.

“Kalau bukan Pertamina, kehilangan 25 persen pendapatan yang angkanya ratusan triliun sudah pasti akan membuat perusahaan manapun langsung gulung tikar,” jelasnya.

Konsep manajemen keuangan Pertamina seperti itulah, yang menurut Salamuddin perlu menjadi contoh oleh BUMN lain.

“Jadi, tidak ada masalah dengan penurunan penjualan sebesar apa pun, yang penting, kemampuan BUMN menurunkan beban biaya,“ kata Salamuddin.(chi/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Kurangi Impor Methanol & Amankan Pasokan Gas, Pupuk Indonesia Jalin MoU dengan GOKPL


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler