Terlambat Berobat, ke Dokter Sudah Kritis

Kamis, 21 Januari 2010 – 02:14 WIB
DUKA - Suasana di kediaman Michael D Ruslim, Presdir PT Astra International Tbk, saat jenazahnya disemayamkan. Foto: Raka Denny/Jawa Pos.
Presiden Direktur PT Astra International Tbk, Michael Dharmawan Ruslim, dikenal sebagai orang yang sangat peduli kesehatanNamun, dia tumbang dan akhirnya meninggal karena demam berdarah.

Laporan JANESTI P-IGNA ARDIANI, Jakarta

KARANGAN
bunga tanda belasungkawa berjejer di sepanjang jalan masuk Taman Patra IX, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (20/1) siang kemarin

BACA JUGA: Titiek Puspa, Lebih Segar Pasca Terapi Kanker Rahim

Bunga tanda ucapan dukacita itu semakin menumpuk di depan rumah nomor 9, tempat Michael Dharmawan Ruslim dan keluarga tinggal.

Lantunan tahlil dan ayat-ayat suci Alquran juga terus mengalun dari rumah mewah berlantai dua dengan berbagai tumbuhan yang teduh itu
Ketika itu, sambil menunggu kedatangan jenazah yang masih dalam perjalanan dari Singapura, di dalam rumah tampak beberapa orang membaca tahlil dan surat Yasin

BACA JUGA: Menang di Pengadilan dengan Injil Cetakan Hongkong 1895

Dari pengeras suara juga diputarkan kaset pembacaan salawat dan ayat-ayat suci.

Sekitar pukul 16.30 WIB, jenazah Michael tiba di rumah duka dengan Toyota Alphard bernopol B 8697 E
Bersamaan dengan itu, tampak istri Michael, Trisni Puspitaningtyas (48), serta kedua anak mereka, Gisela Deamanda Prasadhistika (15) dan Mayongga Gilang Pragiwaksana (13).

Pihak keluarga yang menunggu sejak pagi, langsung menyalami dan memeluk mereka

BACA JUGA: Gunakan Bahasa Daerah, Bantu Hemat Anggaran Negara

Trisni, sang istri, terlihat tabah membalas pelukan saudara-saudaranyaMeski begitu, sembab di matanya tak bisa menghapus jejak bahwa dia sangat berdukaGisela, si sulung, lebih emosionalDia menangis begitu turun dari mobil.

Oleh para pelayat, jenazah pria kelahiran Bandung itu disemayamkan di ruang tengah rumah tersebutPara pelayat diberi kesempatan memberikan penghormatan terakhir kepada jenazah pria yang juga menjabat Wakil Presiden Komisaris PT United Tractors Tbk ini.

Tampak dalam barisan pelayat, antara lain Presiden Direktur Bank Mandiri Agus Martowardojo, bos Para Group Chairul Tanjung, Presiden Direktur PT Toyota Astra Motor Johnny Dharmawan, Pangdam Jaya Mayjen TNI Darpito Pudyastungkoro, mantan Menko Perekonomian Dorojatun Kuntjoro-Jakti, Direktur Utama PT Astra Sedaya Finance Djony Bunarto, serta tokoh pendidik Arief Rahman.

Sebagian pelayat mengaku kaget setelah mendengar kabar wafatnya MichaelBahkan, sampai ada yang harus konfirmasi hingga tiga kali untuk meyakinkan berita ituSeperti yang diungkapkan Arief Rahman"Saya kaget waktu mendengar kabar ituDia kan masih muda dan dinamisOrangnya juga aktif," katanya.

Hubungan Arief dan Michael, seperti yang dikatakan Arief, cukup dekatBeberapa kali mereka terlibat dalam proyek pendidikanMisalnya saat pembangunan sekolah dasar di Meulaboh, Aceh, pasca bencana tsunami.

Di mata Arief, Michael tidak hanya seorang businessman, tapi juga pendidik"Orangnya sangat concern dengan pendidikan," lanjutnya.

Ada satu pemikiran Michael, yang menurut dia sangat membekas di hatinyaYakni, Michael selalu berusaha melayani masyarakat dengan baik"Dia pernah bilang sama saya, jangan kita yang meletakkan rencanaTapi, letakkan rencana itu sesuai dengan kebutuhan yang kita layaniDia memang seorang pelayan yang unggul dan muslim yang dedikatif," paparnya.

Head of Public Relations PT Astra International Tbk, Yulian Warman menambahkan, di kantor Michael dikenal sebagai orang yang low profileDia tidak sungkan menyapa para karyawanJika karyawannya telah menyelesaikan pekerjaan dengan baik, dia tidak sungkan mengirimkan SMS ucapan terima kasih"Kami semua di Astra, sangat dekat dengan Pak Michael," ucapnya.

Saking dekatnya, sampai-sampai saat Idul Fitri, dia tidak sungkan mendatangi tempat duduk karyawan satu per satu"Bukan kita yang mendatangi, tapi dia duluan," lanjutnyaJiwa merah-putih Michael juga tinggiSemenjak menjabat presiden direktur, dia memiliki kebijakan untuk mengadakan upacara bendera setiap 17 Agustus.

Beberapa karyawannya di Divisi Environment Social Responsible mengungkapkan hal yang sama"Beliau tidak sungkan menyapa meskipun itu office boy," kata salah seorang dari merekaKetika ditanya apa yang paling khas dari pimpinannya itu, mereka menjawab, "baju putih?"Kalau ke kantor, dia sangat suka memakai kemeja putih"Kemeja putih itu Pak Michael banget," lanjutnya.

Bagi pihak keluarga, kepergian Michael terasa begitu menghenyakkanMenurut Toto Pribadi, kakak iparnya, selama ini pria 56 tahun tersebut dikenal sebagai pribadi yang jarang sekali sakitSebab, dia sangat memperhatikan kesehatanPola makannya terjaga, juga rutin berolahraga"Setiap pagi dia (Michael) selalu jalan pagi," katanyaMichael pengidap diabetes (kencing manis), tapi dalam tahap ringan dan tidak terlalu mengganggu kesehatannya secara umum.

Lantaran jarang sakit itu, pihak keluarga tak melihat adanya gejala sakit fisik pada MichaelBahkan, seminggu lalu, agenda kegiatannya sangat padat"Senin (11/1), dia masih ke SurabayaKamis (14/1) menghadiri undangan acara bank swasta," jelas pria berkumis tersebut.

Tanda-tanda kelemahan fisik baru tampak pada Jumat (15/1)Saat itu, cerita Toto, Michael masih ngantor seperti biasaHanya, sorenya dia pulang ke rumah dengan mengeluh pusing"Sebenarnya di kantor pun Pak Michael sudah terlihat kurang fitMatanya memerah," imbuh Yulian Warman, General Manager Head of Public Relations Division Corporate Communication Astra International.

Keluhan itu rupanya tak begitu dianggap serius oleh MichaelDia tak langsung berobatBaru pada Sabtu (16/1) sore, keluarga membawanya ke RS Medistra, JakartaTapi, kondisinya sudah cukup kritis.

Dari pemeriksaan darah diketahui Michael terkena demam berdarahKadar trombositnya turun drastis, tinggal 2.000 per mml dari normal 150 ribu per mmlPenurunan trombosit itu juga diikuti penurunan tekanan darah yang hanya 70 mmHgKeadaan ini membuat Michael tak sadarkan diri"Minggu (17/1) dia koma," cerita Toto.

Kondisi Michael tentu saja membuat panik seluruh keluargaUntuk mencari second opinion dalam penanganan kesehatannya, keluarga mendatangkan dokter dari Mount Elizabeth Hospital, Singapura.

Menurut Toto, setelah diperiksa menyeluruh, kondisi Michael sudah sangat burukAkibat penurunan tajam trombosit, organ-organ dalam Michael juga lumpuhGinjalnya tidak lagi bekerja sempurna, sehingga harus dilakukan hemodialisis (cuci darah).

"Keluarga sebenarnya berniat membawa Michael ke SingapuraTetapi, dokter mengatakan, jika ingin membawanya ke sana, Michael tidak boleh berada di jalan lebih dari tiga jamSebab, kondisinya bisa bertambah buruk," katanya.

Selain itu, sang dokter tidak menjamin keadaan Michael akan bisa lebih baik setelah dirawat di Mount ElizabethNamun, RS di Singapura diyakini bisa memberikan perawatan yang lebih.

Melihat kondisinya yang tak memberikan pertanda baik, Senin (18/1), keluarga memutuskan menerbangkan Michael ke Singapura pada pukul 03.40Mereka menggunakan pelayanan khusus dari Mount Elizabeth Hospital yang memungkinkan Michael bisa sampai di Singapura kurang dari tiga jam.

"Memang benar, dua setengah jam setelah diambil dari RS Medistra, saya mendapat telepon bahwa Michael sudah sampai di Singapura," kata TotoDi sana Michael langsung ditempatkan di ruang ICCU (intensive cardiac care unit).

Keberangkatan Michael ke Singapura didampingi Trisni dan Setiadarma, kakaknyaGisela dan Gilang, anaknya, baru berangkat esok harinya"Waktu itu Trisni belum kuat untuk mengabari keadaan papanya kepada anak-anakDia takut mereka shockSelama ini kan papanya tidak pernah sakit parah," kisahnya.

Toto-lah yang kemudian menyampaikan berita ini kepada Gisela dan Gilang"Cukup berat," kata TotoSebab, Gisela dan Gilang mencecarnya dengan berbagai pertanyaan"Mereka ingin tahu lebih jelas," lanjutnya.

Di Singapura, kondisi Michael sempat membaikTekanan darahnya meningkat hingga lebih dari 100 mmHgSayang, kondisi ini tak berlangsung lamaSelasa (19/1) sekitar pukul 23.00 kondisinya kembali menurunTekanan darahnya anjlok lagi hingga 70 mmHg.

Menginjak Rabu dini hari (20/1), kondisi pria ramah itu makin parah, hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhir pada pukul 06.08 WIB atau pukul 07.08 waktu Singapura"Saat ditelepon (dikabari Michael meninggal, Red) saya benar-benar sangat shock," ujar Toto.

Sebagian besar anggota keluarga Michael tinggal di Amerika SerikatTermasuk kedua orangtuanyaDiperkirakan mereka tiba di Jakarta hari ini, Kamis (21/1), sekitar pukul 10.00"Tapi, mungkin tidak sempat ikut ke pemakamanSoalnya, pemakamannya kan pagi," kata Toto.

Jenazah Michael dimakamkan di pemakaman elite San Diego Hills Memorial Park Karawang pukul 06.08Jenazah diberangkatkan dari rumah duka setelah subuh(nw)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Digelari Bagindo Sati, Helmy Siap Disapa Uda


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler