Thailand-Tiongkok Bangun Pabrik Semen di Sulsel

Hadapi MEA, Semen Tonasa Perkuat Packing Plant

Senin, 06 Oktober 2014 – 03:42 WIB

jpnn.com - PANGKEP - Jelang pasar bebas ASEAN (MEA) 2015, persaingan bisnis semen mulai terasa di Indonesia timur. Setidaknya ada dua investor asal Tiongkok (Anhui Conch Cement Company Limited) dan Thailand (Siam Cement Group Plc) berencana membangun pabrik semen di Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Bahkan, pabrikan asal Vietnam, yakni Chinfon Cement Corporation, sudah siap memasarkan produk semen baru bermerek Merah Putih. Chinfon saat ini berkolaborasi dengan perusahaan lokal PT Sarana Agra Gemilang. Mereka tertarik berinvestasi bisnis semen di Indonesia timur karena pertumbuhannya sekitar 6 persen (2013-2014) .

BACA JUGA: Pedagang Pasar Cirebon Antusias Daftar BPJS Ketenagakerjaan

Kehadiran tiga kompetitor itu menjadi ancaman bagi pabrikan semen lokal, khususnya PT Semen Tonasa, yang selama ini "menguasai" 42 persen pasar semen di Indonesia timur. Semen Tonasa memiliki sejumlah strategi untuk membendung kehadiran serbuan tiga pabrikan semen besar tersebut. Salah satunya, mendekatkan diri ke konsumen dengan membangun pabrik pengemasan semen alias packing plant. "Kami akan memperbanyak packing plant di daerah-daerah, misalnya di Sorong, Papua," kata Dirut Semen Tonasa Andi Unggul Attas, akhir pekan lalu.

Saat ini, pabrik Semen Tonasa memiliki kapasitas produksi 5,98 juta ton pertahun. Tahun ini, perseroan menargetkan 6,7 juta ton per tahun dan saat pemberlakuan MEA 2015 sekitar 7 juta ton pertahun. Di pasar lokal, pesaing terdekat adalah PT Semen Bosowa dan PT Indocement Tunggal Perkasa Tbk (Tiga Roda). Belakangan beredar semen impor dari Tiongkok tetapi kurang laku di pasaran.

BACA JUGA: Pilih Dirut Pertamina, Jokowi Harus Perhatikan 7 Kriteria Ini

Menurut Andi, Semen Indonesia kini mengoperasikan total 23 packing plant alias pabrik pengemasan semen. Semen Tonasa yang mengelola pasar Indonesia timur memiliki sedikitnya 10 packing plant yang diantaranya tersebar di pelabuhan Biringkassi Pangkep, Makassar, Bitung, Palu, Ambon, Kendari, dan Sorong.

"Kami berencana memperbanyak pembangunan packing plant untuk efektivitas pemasaran," kata Andi. Biaya distribusi sendiri menyedot 15-17 persen dari total biaya produksi.

BACA JUGA: JTD Siap Garap Jalur Semanan - Sunter

Andi menjelaskan, biaya pembangunan satu unit packing plant senilai Rp 100 miliar. "Sebuah pelabuhan layak dibangun packing plant bila serapan pasarnya mencapai 150 ribu ton pertahun," jelasnya.

Selain memperbanyak packing plant, kata Andi, perseroan menjajaki pembangunan pabrik semen di Papua. Investasi pabrik baru itu mencapai sekitar Rp 3 triliun. Dia membeberkan, kebutuhan semen di Papua selama ini memang kecil, yakni 500 ribu ton per tahun.

Dari jumlah itu, Semen Tonasa memasok sekitar 300 ribu ton pertahun. "Namun, kecilnya kebutuhan semen itu karena harganya yang bisa jadi mahal karena tingginya biaya distribusi, apalagi yang ke pegunungan," jelas Andi.

Dia lantas mencontohkan harga semen di Wamena yang mencapai Rp 800 ribu per sak, bahkan di Pegunungan Jayawijaya seharga Rp 1,6 juta persak. "Mahal karena biaya pengangkutannya menggunakan pesawat," jelas pria kelahiran Paloppo itu. Bila biaya distribusi ditekan, kebutuhan semen di Papua diyakini akan terus meningkat.

Menurut Andi, pembangunan pabrik semen di Papua lebih untuk mengantisipasi serbuan kompetitor. "Kami akan perkuat pasar dengan menyiapkan tiga jurus, penguatan pasar domestik, menguasai jalur distribusi, dan efisiensi produksi," tambahnya. (agm)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Merak Batal Pindah, Ini Alasan Pemerintah


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler