Tjahjo Kumolo, Puisi, Gitar, dan Pengabdian

Selasa, 08 Desember 2015 – 00:14 WIB
Mendagri Tjahjo Kumolo. Foto: dok.JPNN

jpnn.com - AKTIVITASNYA luarbiasa padat. Bahkan setiap hari bisa hingga lebih dari 18 jam dihabiskan untuk bekerja. Mulai dari mengikuti rapat terbatas dengan Presiden, kementerian/lembaga terkait, hingga melakukan perjalanan ke daerah-daerah. 

Ken Girsang-Jakarta

BACA JUGA: Luhut Panjaitan Terkenang Penyerangan Kota Dili, Gagah Berani tapi...

Seperti untuk pelaksanaan pemungutan suara Rabu (9/12) mendatang, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo direncanakan dalam sehari penuh berkeliling mulai dari meninjau pemungutan suara di Bekasi, Tangerang Selatan, hingga Tasikmalaya. 

"Di hari itu juga saya rencananya akan berangkat ke Semarang untuk meninjau hasil pemungutan suara di Kabupaten Ungaran ditambah Kota Semarang," ujar Tjahjo, Senin (7/12). 

BACA JUGA: Anak Jalanan yang Punya IQ Superior, Hidup Nomaden Asal Bisa Sekolah

Namun meski aktivitas begitu padat, untuk menghasilkan karya tidak ada kata berhenti dalam kamus mantan Sekjen DPP PDI Perjuangan ini. Bahkan karya yang dihasilkan tidak hanya buku, tapi juga puisi-puisi indah tentang kehidupan dan bernegara. Karena dalam tubuhnya, mengalir begitu kuat percampuran antara darah seni, aktivis, hingga keterpanggilan mewujudkan Indonesia yang makmur, aman dan sejahtera. 

Wujud tersebut salah satunya ia perlihatkan dalam goresan kata-kata indah yang diberi judul "Life is Beautiful".  

BACA JUGA: Waspada Papa dan Mama Minta Suara

"Hidup itu indah, bila kita dapat melihat itu sendiri dari memadukan langkah awal, perasaan, kata hati, pikiran dan keyakinan. Kita melangkah untuk keindahan ke depan," ujar Tjahjo dalam karyanya tersebut.

Selain itu, JPNN sempat merekam rangkaian kata-kata indah lain yang pernah diposting menteri yang pada 1 Desember lalu genap berusia 58 tahun ini. Ia mengingatkan, bahwa jiwa adalah pondasi dari hidup. 

"Hati/jiwa kita adalah akar/pondasi. Dia tuan rumah, sedangkan pikiran, panca indra dan raga adalah tamu. Jiwa akan berkuasa atas tamunya. Karena jiwa tempat pusaran jagad kecil manusia. Jika jiwa lebih dikuasai oleh tamu-nya, maka jiwa kita akan semakin menua, semakin rapuh dan akhirnya hancur, yang mengakibatkan tamu hidup tanpa jiwa, bak perahu berjalan tanpa layar, terombang-ambing," ujar Tjahjo. 

Selain menorehkan puisi-puisi indah, pria kelahiran Surakarta ini ternyata mampu memainkan sejumlah alat musik. Itu ia lakoni sejak masih muda. Hanya saja diakui, kini mulai berkurang karena mengingat kesibukan yang begitu luarbiasa.  

"Ya sesekali masih mencoba memetik gitar untuk menghibur diri," ujarnya. 

Pria kelahiran Surakarta ini mengatakan, bahwa hidup kadang penuh fatamorgana. Perjalanan kadang penuh tipu daya, keyakinan kadang diuji dan kepercayaan sering dikhianati.

"Jangan lelah berdoa, jangan larut dalam duka. Usap jiwa, bersimpuh di depanNya. Hanya Dia pemilik sukma. Langkah pertama menentukan langkah selanjutnya, ikatkan langkahmu dengan pikir, hati dan perasaan," ujarnya.(gir/jpnn)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Kisah Ajaib Rian, Otak Tertusuk Kayu, Kening Diusap Ustaz Yusuf Mansur, Kini Menulis Buku


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler