Tole Iskandar dan Kaum Belanda Depok

Minggu, 11 Oktober 2015 – 14:13 WIB
Potogan halaman 2 koran Penjoloeh, 25 Oktober 1945. Foto: Dok.Wenri Wanhar/JPNN.com.

jpnn.com - SAAT Peristiwa Gedoran Depok, kaum Belanda Depok ditawan laskar rakyat. Para tawanan dipisah menjadi dua kelompok. Perempuan dan anak-anak berumur di bawah 12 tahun dikumpulkan di kantor Gemeentee Bestuur Depok. Sedangkan laki-laki digiring ke stasiun Depok, kemudian dibawa ke penjara Paledang, Bogor.

=======
Wenri Wanhar - Jawa Pos National Network
=======

BACA JUGA: Revolusi Oktober Di Kampung Belanda Depok

Satu di antara beberapa kelompok yang menggerakan rakyat menyerang pemukiman Belanda Depok adalah Laskar 21 pimpinan Tole Iskandar.

Saat Gedoran Depok, kata Ngkong Asbih, Laskar 21-lah yang mengumpulkan tawanan dan memisahkan mereka menjadi dua kelompok. 

BACA JUGA: Saya Saksikan Peristiwa Gedoran Depok dari Awal sampai Akhir

Menurut dia, Laskar 21 tidak pernah menyakiti orang Depok yang menjadi tawanan. “Sebagai pejuang muslim, kami berpegang pada prinsip Nabi Muhammad yang melarang menyakiti tawanan anak-anak dan wanita.”

Ngkong Asbih, salah satu anggota Laskar 21 menceritakan, setelah Jepang menyerah kepada tentara sekutu tahun 1945, Heiho dan PETA dibubarkan dan kembali ke kampung halaman masing-masing. 

BACA JUGA: Hari Ini, 70 Tahun Lalu, Perkampungan Belanda Depok Diserbu Laskar Rakyat

Mereka diperbolehkan membawa perlengkapan kecuali senjata. Hanya saja, ada saja yang bandel, sembunyi-sembunyi membawa senjata.

Dalam konteks menyambut revolusi kemerdekaan Indonesia, para pemuda bekas Heiho dan PETA mengadakan rapat pada bulan September 1945 di Jalan Citayam (sekarang Jalan Kartini), Depok. 

Pertemuan tersebut menyepakati dibentuknya Barisan Keamanan Depok yang beranggotakan 21 orang dengan Tole Iskandar sebagai komandan. Kini, nama Tole Iskandar dijadikan nama jalan utama di Depok.

Anggota Laskar 21 terdiri dari Tole Iskandar, Abdoellah, Saiyan, Sainan, Sinan, Salam A, Niran, Saidi Bontjet, Idan Saidan, Tamin, Joesoep, Salam B, Baoeng, Mahroef, Muhasim, Asbih, Rodjak, Tarip, Kosim, Nadjid, Mamoen.

“Saya kemana-mana selalu sama Tole. Dia tinggi besar dan selalu melindungi,” kenang Ngkong Asbih ketika ditemui di rumahnya di Gang Kembang RT 04/03 Ratu Jaya, Pancoran Mas, Depok. Dia tetangga Tole Iskandar.

Ngkong Asbih telah berpulang. Sebelum itu, dia sempat mengisahkan sejarah penting saat revolusi 45. 

Interniran

Cerita Ngkong Asbih terkonfirmasi dengan apa yang dikisahkan Opa Yoti, anak Presiden Depok terakhir yang saat itu berusia 23 tahun.

“Karena sudah remaja, saya ikut rombongan yang di stasiun. Siang harinya, kami diangkut dengan kereta api ke Bogor. Dalam perjalanan seluruh jendela kereta ditutup. Isi kereta penuh sampai sesak dan susah bernafas. Waktu itu ada yang pingsan. Kami kehausan tapi tidak ada air minum,” ujarnya.

Sesampai di Bogor hari sudah sore. Tahanan dibawa ke penjara Paledang dalam pengawalan ketat laskar rakyat.

Beberapa waktu kemudian, sebagaimana dikatakan Opa Yopi, tengah malam  tiba-tiba datang pasukan Gurka  menjemput orang-orang Depok yang ditawan ke Paledang. Orang-orang Depok sangat senang sekali dengan kedatangan pasukan Sekutu ini. Mereka merasa terselamatkan. Setidaknya itu yang dirasakan Opa Yoti.

“Oleh pasukan Gurka, kami digiring ke dalam truk lalu dibawa ke Kota Paris, Bogor dan ditampung di rumah-rumah kosong. Setelah beberapa hari di sana, kemudian dibawa lagi ke Kedung Halang, Bogor, tempat itu disebut kamp pengungsian. Interniran.”

Kehidupan di kamp pengungsian sangat memprihatinkan, sampai-sampai Opa Yoti mengaku trauma mengingatnya dan sama sekali tidak mau berkunjung lagi ke sana. 

“Di kamp pengungsian, kami yang biasa hidup enak tiba-tiba tak punya apa-apa. Duit nggak ada, yang ada cuma kaos singlet dan celana pendek doang.”

Ketika baru sampai di kamp pengungsian kaum Belanda Depok dirawat oleh palang merah. Mereka membangun dapur umum. Selama di sana, di antara orang Depok ada yang merawat tanaman, ada yang kerja di bengkel roti dan kesibukan lainnya.

“Setiap hari kami hanya berdoa kepada Tuhan Yesus dan berpasrah diri,” Opa Yoti mengenang masa remajanya.

Kaum Belanda Depok menghabiskan waktu di Kedung Halang sampai tahun 1949. Setelah itu mereka dipulangkan kembali ke rumah masing-masing di Depok dan hidup damai berdampingan dengan orang kampung hingga hari ini.

Kenapa Opa Yoti dan orang-orang kampungnya disebut Belanda Depok? Ikut serial selanjutnya...--bersambung (wow/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... SEBETULNYA INI RAHASIA! Sihir Titiek Puspa


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler