JAKARTA - Sindikasi peredaran uang palsu (upal) di tanah air menjelang Lebaran menjadi perhatian serius Mabes PolriSebab, kasus tersebut dilaporkan meningkat drastis per tahun. Kasubdit Uang Palsu dan Dokumen Palsu Bareskrim Polri Kombes Darmawan Sutawijawa merilis kasus uang palsu yang ditangani Polri naik dua kali lipat dari 2009 ke 2010.
"Peredaran itu sebagian besar terjadi menjelang hari raya keagamaan, tahun ini kita lebih waspada dengan strategi khusus," ujarnya
BACA JUGA: Kamis, Komite Etik Mulai Bekerja
Darmawan memaparkan, pada 2010 tercatat kasus uang palsu sebanyak 1.176 kasus dengan barang bukti 523.347 lembar uang palsuBACA JUGA: AKBP Mindo Sudah Dicurigai Sejak Lama
Tahun itu, Polri juga menetapkan sebanyak 290 tersangka kasus uang palsu.Kasus uang palsu tahun ini diperkirakan Darmawan akan bertambah banyak lagi
BACA JUGA: Jejak Nazaruddin Gelap Lagi
Polri telah menangani kasus ini di Jawa Timur, Jawa Tengah, Banten, dan KalimananDia menyebutkan, daerah yang paling rawan peredaran uang palsu di Jawa Tengah dan Jawa Timur.Menurut Darmawan, ada beberapa indikator yang mendukung daerah itu menjadi rawanDia menyebut faktor kemiskinan yang tinggi didukung teknologi dan kecerdasan masyarakatnyaLemahnya UU juga ikut berkontribusi karena dari 290 tersangka yang disidang pada 2010 hanya divonis enam bulan sampai empat tahun"Kita harapkan agar jangan sampai ada korban, sebelum belanja cek ulang," katanya
Kecenderungan kenaikan peredaran uang palsu ini selaras dengan temuan BI terhadap uang tersebut di masyarakatBerdasarkan data yang dirilis bank sentral, saat bulan puasa dan Lebaran tahun lalu yang jatuh pada September, peredaran uang palsu mencapai 14 lembar berbanding satu juta lembar uang beredarPadahal, rasio pada Agustus hanya 10 lembar uang palsu per satu juta lembar dan Juli sembilan lembar.
Pada Januari-Mei 2011, total uang palsu yang berhasil ditemukan di masyarakat mencapai 57.380 lembar atau enam lembar berbanding satu juta lembarTemuan uang palsu terbanyak terdapat di Jawa Timur yaitu 22.426 lembarUang yang sering dipalsukan adalah pecahan Rp 100 ribu sebanyak 33.272 lembar (57 persen)Selanjutnya lembaran uang Rp 50 ribu sebanyak 20.217 lembar (35,23 persen).
Kelompok kriminal upal, kata Darmawan, biasanya mengincar pasar-pasar yang ramai dengan transaksi tunaiKarena itu, dia mengingatkan agar masyarakat waspada"Jangan karena tegesa-gesa lalu tidak dicekHarus teliti," katanya di Jakarta kemarin (01/08)Uang yang paling banyak dipalsukan biasanya nominal Rp 50 ribu dan Rp 100 ribu
Darmawan mencontohkan, jumlah kasus uang palsu yang ditangani Polri meningkat dua kali lipat dari 2009 ke 2010"Peredaran itu sebagian besar terjadi menjelang hari raya keagamaan, tahun ini kita lebih waspada dengan strategi khusus," ujarnya(rdl/iro)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Lelang Proyek MRI di Kemenkes Dipersoalkan
Redaktur : Tim Redaksi