Usai Etape Pertama, Team Sky Jualan Mesin Kopi

Kamis, 22 Agustus 2013 – 08:43 WIB

Hari pertama USA Pro Challenge 2013, Senin lalu (19/8, kemarin WIB), merupakan hari minim penyiksaan bagi rombongan Indonesia. "Hanya" gowes 34 kilometer, lalu seru bertemu tim-tim dan pembalap bintang!
 
AZRUL ANANDA, Aspen

 
Setelah dua hari bersepeda 50 km dan 90 km di Aspen, Colorado, Senin lalu (19/8, Selasa kemarin WIB) merupakan hari yang lebih ringan bagi peserta program bersepeda bersama Team Sky yang dikelola Rapha.

Pagi itu, jadwalnya hanya bersepeda "ringan", lalu memuaskan diri "main-main" di tengah Kota Aspen, menonton start dan finis etape pertama USA Pro Challenge 2013.
 
Yang dimaksud ringan: Menjajal rute lomba etape pertama tersebut. Yaitu, rute keliling dari Kota Aspen ke arah Snowmass, lalu balik ke Aspen lagi. Di tengah-tengahnya ada beberapa tanjakan menukik tajam. Panjang rute "hanya" sekitar 34 km, dengan total tanjakan mencapai 1.000 meter.
 
Beberapa tanjakan itu sudah kami rasakan pada hari pertama bersepeda di Aspen, saat mencoba menyesuaikan diri dengan udara tipis di ketinggian 2.400 meter. Beberapa di antaranya "menendang", mencapai kemiringan 10"12 persen.
 
Bersepedanya pun tidak ngotot. "Gentlemen"s pace" alias santai. Berhenti beberapa kali di titik-titik penting sirkuit, seperti di garis KOM (King of Mountains). Sekaligus menunggu seluruh peserta berkumpul lagi. Bagi kami dari Indonesia, juga berhenti untuk foto-foto.
 
Sirkuit itu berakhir di tengah Kota Aspen. Total, kami menghabiskan waktu 1 jam 51 menit, dengan total waktu mengayuh sepeda 1 jam 30 menit (sekitar 21 menit istirahat atau berhenti).
 
Kami melakukannya mulai pukul 09.00. Sudah balik ke rumah penginapan pukul 11.00. Kebetulan, letak rumah mewah tempat kami tinggal di Aspen itu tidak sampai satu kilometer dari jalur start/finis.
 
Lomba sendiri dimulai pukul 13.00, dan para pembalap melintasi sirkuit itu sebanyak tiga kali. Asal tahu saja, mereka butuh tidak sampai satu jam untuk keliling satu lap!
 
Peter Sagan (Cannondale) yang menjadi juara etape pertama itu menyelesaikan lomba hanya dalam waktu 2 jam 26 menit. Balik ke rumah, kami langsung cepat-cepat mandi. Setelah itu, berjalan ke arah garis start/finis lomba. Teman-teman dari Rapha memberi tahu bahwa para pembalap akan cukup santai sebelum lomba, dan kami bisa bertemu mereka untuk foto-foto dan minta tanda tangan lagi.

BACA JUGA: Mengajar Demi Pendidikan Anak Indonesia di Malaysia

Dan itu tidak hanya dengan Team Sky. Semua tim peserta dengan relatif mudah bisa ditemui. Yang paling populer, selain Team Sky, adalah RadioShack-Leopard, Garmin-Sharp, dan Cannondale.
 
Siang itu, kami berempat "saya, Prajna Murdaya, Sun Hin Tjendra, dan Cipto S. Kurniawan" kompak pakai batik lengan pendek. Warnanya pun biru Team Sky. Tampak manis dipadu dengan topi cycling Team Sky.
 
Saya belajar trik batik itu dari rekan saya penggemar Formula 1 di Surabaya, Dewo Pratomo. Dia selalu pakai batik kalau nonton/liputan F1, dan itu memudahkan proses mencari perhatian. Plus, membuat para pembalap yang diburu lebih mudah mengingat kita.
 
Dan kali ini, di Aspen, Colorado, trik itu berhasil lagi!
 
Kami benar-benar "berpesta". Berhenti di semua kawasan kerja tim, foto-foto dengan sebanyak mungkin pembalap terkenal. Atau, memotreti sepeda-sepeda milik para pembalap, termasuk detail-detail komponennya.
 
Di Garmin-Sharp, kami berfoto dengan pembalap top Amerika, David Zabriskie. Kemudian, kami juga dapat foto dengan bintang Garmin-Sharp yang sangat terkenal, David Millar. Dia senior, dulu pernah terlibat doping, dan kemudian merebut hati penggemar lewat buku pengakuannya, Racing Through the Dark.

Dan tahun lalu, Millar juga berhasil memenangi satu etape Tour de France.
 
Di kawasan RadioShack-Leopard, kami berhasil "mengalahkan" begitu banyak orang yang menunggu satu orang: Jens Voigt. Usianya sudah 42 tahun, tapi dia luar biasa populer. Gaya membalapnya yang berani, selalu mencoba melarikan diri dari peloton, membuatnya punya jutaan penggemar. Di Amerika, dia mungkin lebih top dari pembalap-pembalap tuan rumah.
 
Dia juga dikenal dengan kutipan-kutipannya yang lucu. Misalnya, slogan paling topnya: "Shut up legs!" (Diamlah, kaki). Dia mengaku mengucapkannya ketika kakinya mulai "rewel" saat balapan.
 
Saya sendiri terus terang penggemar berat Jens Voigt! Dia dan Fabian Cancellara menjadikan RadioShack-Leopard (tahun depan jadi Trek Factory Team) sebagai salah satu tim favorit saya.
 
Setelah itu, ada foto-foto dengan pembalap Cannondale. Dan beberapa mengenali kami. Sebab, Prajna, Sun Hin, dan saya pada Mei lalu ikut Tour of California bersama mereka. Ted King dan Juraj Sagan (kakak Peter Sagan) dengan ramah melayani permintaan foto kami.
 
Juara nasional Amerika, "Fast" Freddie Rodriguez, juga foto-foto bareng kami. "Ini 15 menit paling seru," kata Prajna.

BACA JUGA: Gowes Pertama, Jantung Berdebar seperti saat Jatuh Cinta

Tidak lama, seluruh pembalap menuju garis start lomba. Ribuan penonton sudah berbaris di sisi lintasan, menyoraki nama-nama para bintang ketika nama mereka diumumkan para MC.
 
Lomba pun berjalan. Tak sampai tiga jam kemudian (tepatnya 2 jam 26 menit itu), Peter Sagan menang sprint dan berhak menjadi yang pertama mengenakan yellow jersey di Colorado.
 
Kami menonton lomba dengan berpindah-pindah. Sempat beli makanan di stan burger di tengah taman, lalu keliling stan-stan merchandise dan sponsor yang begitu banyak tersebar.
 
Harga lumayan mahal, tapi tidak semahal Tour of California. Replika jersey lomba dijual USD 80. Kaus sekitar USD 20 sampai USD 28. Dan lain sebagainya.
 
Ada panggung hiburan. Di atasnya seorang pelukis tampak sibuk menyelesaikan karyanya (gambar balap sepeda tentunya). Di sampingnya ada layar LED besar, dan kami mengikuti lomba dari situ.
 
Ada atraksi akrobat BMX di belakang panggung, arena permainan, dan lain sebagainya. Benar-benar meriah dan mengasyikkan suasana. Apalagi, semua terpusat di tengah Kota Aspen, di kawasan taman kota.
 
Begitu lomba selesai, kami pun balik ke rumah. Sebelumnya ketemu lagi dengan para pembalap yang sudah selesai berlomba. Khususnya Team Sky. Dengan sangat ramah, mereka menemui kami, melayani ajakan ngobrol, dan melayani lagi foto-foto serta tanda tangan.
 
Karena Froome sudah kami "dapatkan" saat gowes bareng Minggu lalu (18/8), kali ini yang paling dituju adalah Richie Porte.
 
Lucunya, saat itu Ian Boswell (pembalap Sky) menawari kami untuk membeli sebuah alat pembuat kopi. "Hanya 100 dolar. Dan kami satu tim sudah menandatanganinya. Kami menjualnya karena kami tidak menyukainya, dan kami ingin punya mesin pembuat espresso," tuturnya disambut tawa semua orang di sekeliling.
 
Dia menunjuk jendela depan bus Team Sky. Benar saja, di situ ada sebuah kardus mesin kopi yang ditandatangani seluruh pembalap!
 
Karena kami tidak mau, Boswell dengan aktif menawar-nawarkannya lagi kepada orang-orang yang lewat. Lucu sekali. Batik yang kami kenakan benar-benar mencuri perhatian. Banyak orang yang menanyai, memotret, termasuk perwakilan media.
 
Setelah itu, kami benar-benar berjalan balik pulang. Hanya Prajna yang berlanjut mencari toko kebutuhan sehari-hari. Dan beruntung dia tidak segera pulang. Sebab, setelah itu, dia bertemu Peter Sagan (yang baru selesai dari seremoni lomba dan tes doping). Dia pun foto-foto dan dapat tanda tangan sang superstar asal Slovakia tersebut.

Sore itu, segalanya cukup santai. Malamnya, kami juga kedatangan tamu penting dari Team Sky. Setelah makan malam, kami dikunjungi Fran Millar, head of business operations tim nomor satu dunia tersebut.
 
Dengan blak-blakan dan seru, Millar "yang adik kandung pembalap David Millar" bercerita tentang latar belakang Sky, rencana masa depan, bahkan hal-hal di balik layar yang selama ini tidak diketahui orang.
 
Cipto S. Kurniawan, yang penggemar berat Sky, senang sekali. "Orang itu kalau ngomong apa adanya ya," komentar Wawan, sapaan akrabnya.
 
Hari yang santai pun berakhir sekitar pukul 21.00. Setelah itu, Brad Sauber, manajer tur Rapha, kembali melaksanakan brifing untuk hari esok.
 
Dan ini waktu kami menyampaikan kepada pembaca, mengapa hari Senin itu begitu santai. Sebab, hari Selasa-nya adalah hari yang paling menyiksa!
 
Selasa pagi, pukul 07.30, kami sudah dijadwalkan berangkat. Rutenya merupakan rute termaut di rangkaian program di Colorado ini. Yaitu, menanjaki Independence Pass, jalanan yang pucuknya berada di ketinggian sekitar 3.700 meter. Saking tingginya, pohon pun sudah tidak bisa tumbuh!
 
Saking tingginya pula, antara November sampai Mei, jalan itu benar-benar ditutup untuk publik. Sebab, terlalu berbahaya untuk ditanjaki, khususnya bila bersalju!
 
Kalau segalanya lancar, tantangan hari itu bukan hanya Independence Pass. Kalau sesuai dengan rencana, hari itu kami akan bersepeda sejauh hampir 160 km menuju Breckenridge.Aduh! (bersambung)

BACA JUGA: Adelana, si Gadis Pemalu itu Ingin jadi Polisi

BACA ARTIKEL LAINNYA... Pemanasan di California, Menuju Aspen Sehari Lebih Dini


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler