Warga Guam Mulai Resah, Salahkan Gaya Sok Jagoan Trump

Jumat, 11 Agustus 2017 – 06:20 WIB
Salah satu misil Korea Utara. Foto: AFP

jpnn.com, GUAM - Gubernur Guam Eddie Calvo kembali menepis kemungkinan serangan Korut ke wilayahnya. Pemimpin 55 tahun itu mengaku sering menerima ancaman sejak AS menempatkan fasilitas militer di sana.

”Kami siap menghadapi segala kemungkinan, jauh dibanding komunitas Amerika lainnya,” tegas gubernur yang memiliki nama lengkap Edward Jerome Baza Calvo tersebut.

Selain 6 ribu tentara AS yang bertugas di pulau itu, infrastruktur di wilayahnya terbukti mampu menghadapi badai besar dan gempa 8,3 skala Richter.

BACA JUGA: AS Remehkan Ancaman Korut

Pernyatan Calvo itu adalah tanggapan dari berita di kantor berita Korut KCNA. Korut tengah merancang rencana serangan ”pendahuluan” ke perairan Guam.

Rencananya, empat misil jarak menengah Hwasong-12 diluncurkan berurutan. Diperkirakan, misil akan mencapai target dalam waktu 1.065 detik atau sekitar 17.75 menit.

BACA JUGA: Trump Galak di Twitter, Tapi Takut Bertemu Media

Perencanaan tersebut diperkirakan selesai pada pertengahan bulan dan diberikan kepada Kim Jong-un untuk mendapatkan persetujuan. Jika putra mendiang Kim Jong-il itu setuju, Hwasong-12 segera diluncurkan.

”Korean People's Army bakal meluncurkan Hwasong-12 melewati wilayah udara di atas Perfektur Shimane, Hiroshima, dan Koichi di Jepang,” ujar pernyataan Kepala Militer Jenderal Kim Rak-gyom seperti dilansir KCNA.

BACA JUGA: Tebak, Mengapa Trump Diam saat Masjid di Minnesota Dibom

Jika Korut benar-benar menyerang, peluang bahwa misil itu jatuh di daratan alih-alih di laut masih ada meski cukup kecil. Peneliti senior di Korea Defense and Security Forum (KODEF) Yang Uk mengungkapkan bahwa Hwasong-12 bisa meleset hingga 5 kilometer, tidak lebih.

AS punya beberapa pilihan untuk menghancurkan misil itu. Salah satunya sistem Standard Missile-3 (SM-3). Alat tersebut dimiliki Jepang dan AS. SM-3 bisa menghancurkan misil di atas atmosfer bumi.

”Tapi, tetap ada kemungkinan mereka gagal menghancurkan beberapa misil,” ujar Profesor Takashi Kawakami, pakar pertahanan di Takushoku University, Jepang.

Pilihan kedua adalah menggunakan Terminal High Altitude Area Defense (THAAD). Sistem pertahanan misil itu berada di Korea Selatan (Korsel), Jepang, dan Guam.

Bedanya, THAAD difungsikan untuk menghancurkan misil jika sudah dekat. Dengan begitu, THAAD di Korsel dan Jepang tak bisa difungsikan. Sedangkan THAAD di Guam tidak bisa menembak misil empat kali berturut-turut.

Kian panasnya situasi membuat penduduk Guam makin khawatir. Mereka menyalahkan Presiden AS Donald Trump atas ketegangan yang meningkat saat ini.

Menurut sebagian penduduk Guam, Korut menjadi seperti itu gara-gara kelakuan Trump yang dengan entengnya mengancam bakal menyerang Pyongyang.

”Kami mempunyai anak-anak kecil yang tidak mengerti apa yang terjadi saat ini. Apa yang presiden (Trump) lakukan untuk melindungi kami? Saya menyalahkannya,” ujar Lou Meno, salah seorang penduduk Guam. Menurut dia, situasi saat ini menakutkan. (Reuters/AFP/Aljazeera/sha/c21/any)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Sepertiga Pendapatan Negara Korut Bakal Hilang


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler