Win-Win ala Jepang

Senin, 21 Maret 2011 – 05:05 WIB

MUNGKIN karena wilayah Jepang itu sedikit tetapi penduduknya banyak, membuat mereka harus survivalDan cerdik, bagai si Kancil dalam kisah kanak-kanak Indonesia

BACA JUGA: Reshuffle itu Percuma

Tak pula melodramatic, yang meraung-raung berkepanjangan tatkala ditimpa musibah
Ada kepercayaan diri bahwa tragedy apapun akan lampau jika dihadapi dengan kepala dingin dan etos pantang menyerah.

Kita kagum warga Jepang tetap disiplin antri, berbagi sembako, atau berada di pengungsian di tengah akibat  amuk tsunami, gempa dan geger nuklir di Jepang

BACA JUGA: Killing Me Softly, pak SBY

Beberapa fasilitas public pun segera beroperasi
Tak ada yang menangguk di air keruh, walaupun prahara yang dahsyat itu telah menelan korban 10.000 jiwa lebih.

Ekonomi Jepang juga porak-poranda tak terkira-kira

BACA JUGA: Reshuffle Saja, Pak SBY!

Dua manufaktur besar di Jepang,  Toyota dan Sony menghentikan sebagian besar produksi pasca gempa dan tsunami yang menghantam Jumat (12/3) silamSony Corp menyetop produksi di enam pabrik di provinsi Miyagi.

Pabrik Sony di provinsi Fukushima telah mengevakuasi seluruh pegawainya.Toyota menghentikan produksi di empat pabriknya di Timur Laut provinsi Miyagi, lalu di Iwate, dan di HokkaidoProdusen mobil Nissan juga menghentikan produksi 4 pabriknya.

Namun sebanyak-banyaknya kerugian, jangan abaikan laba sekecil apapunTadinya kita menduga berbagai proyek besar Jepang di Indonesia akan reschedulingTernyata tidakSalah satunya, adalah proyek Metropolitan Priority Areas (MPS) tetap go ahead.

Wakil Menteri Luar Negeri Jepang Makiko Kikuta memastikan itu kepada Menko Perekonomian RI Hatta Rajasa di Jakarta pada Kamis (17/3) lalu.  Termasuk berbagai proyek mendesak akan tetap berjalan, seperti perluasan Pelabuhan Tanjung Priok dan pembangunan Pelabuhan Internasional yang baru.

Masih ada pembangunan jalan di Jabodetabek, bandara dan infrastruktur perhubungan dan berbagai proyek besar lainnya yang total berjumlah 9 buah, yang tentu saja dengan biaya besar.

Kira-kira, dari keuntungan proyek besar ini, mungkin juga Jepang mempunyai proyek sejenis di Negara lain, minimal bisa membantu rekonstruksi pemulihan dan pembangunan di Negara merekaSungguh, Jepang adalah bangsa yang sangat siap menolong diri sendiri, dan apalagi dibantu pula oleh solidaritas dari berbagai Negara lain.
***
Di sisi lain, kita menyaksikan betapa pula industry otomotif dan elektronik Jepang berantakan digerus oleh bencana gempa dan tsunamiNamun, lagi-lagi Jepang rada tertolong karena sudah lama mempunyai kebijakan “pabrik jauh”, nun di berbagai Negara, termasuk di Indonesia.

Inilah, sebuah kebijakan yang efisien dalam menghemat produksi dan distribusi, seraya menguasai pasar yang lebih luas di berbagai Negara konsumenJepang menyadari lahan kosong di negaranya tak lagi tersedia, dan lalu melirik Negara lain, apalagi disertai tersedianya buruh murah

Di Indonesia saja, kita mendengar betapa 70% mobil Nissan yang dipasarkan di Indonesia justru diproduksi di IndonesiaIhwal perakitan tak lagi masalah karena semuanya bisa dilakukan di IndonesiaGempa dan tsunami boleh mengambil korban, tapi pabrik Nissan di Indonesia terus berjalan.  

Mobil Toyota juga sudah dirakit di IndonesiaPaling-paling yang menjadi masalah adalah sparepart yang masih didatangkan dari Jepang, tetapi sebagian sudah dipasok oleh Thailand yang juga “industry jauh” Jepang.

Bahkan, PT Astra Daihatsu Motors akan membangun pabrik mobil di Karawang senilai US$ 400 Juta, dan berkapasitas produksi 100 ribu unit setahunPresiden Direktur Astra Daihatsu Motor Sudirman MR di Jakarta, Rabu (16/3) lalu /2011), berkata bahwa total produksi mobil Daihatsu bakal mencapai 430 ribu unit setahun.

Khusus industri spare part, seusai era gempa dan tsunami ini, tak mustahil juga bisa migrasi ke berbagai Negara, dalam bentuk joint venture antara Jepang dan Negara mitranya, termasuk dengan Indonesia.

Jepang, seperti China dan India terkenal dengan politik ekonomi yang win win solution, selaras dengan kultural TimurAjaran leluhur kebudayaan Timur yang memandang perlunya keseimbangan, rupanya juga mempengaruhi pola perekonomian Negara-negara Timur, termasuk JepangChina, misalnya, mengenal filsafat Yin dan Yang.

Tidak seperti AS dan Eropa yang cenderung head to head, dan berakibat Win-LooseWatak individualis Barat memang cenderung memenangkan pertarungan, mungkin sebagai kelanjutan era kolonialisme dan imperialisme, yang kini berwujud neokolonial dan neoimperial, meskipun dalam wujud perekonomian.

Memang, tak lagi mengerahkan resimen militer dengan persenjataannya, melainkan dengan multinational corporation (MNC) yang beroperasi di banyak negara.

Bagi Indonesia, kearifan budaya perekonomian Jepang itu sesungguhnya  merupakan opportunityMisalnya, mengapa kita tidak segera melakukan negosiasi untuk menangkap peluang relokasi industry Jepang ke IndonesiaInilah politik perekonomian yang win-win solution, yang cocok dengan kepribadian sesama Negara-negara TimurBukan head to head, siapa kuat dia berkuasa yang sangat Barat tersebut.(***)


 



BACA ARTIKEL LAINNYA... Memburu Tax Gap


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler