Wow, Bos Marvel Pengin Ada Superhero dari Indonesia

Minggu, 14 Januari 2018 – 16:56 WIB
Editor In Chief Marvel Comic CB Cebulski. Foto: CBR.com

jpnn.com, JAKARTA - Marvel Comics punya pemimpin baru. C.B. Cebulski, 46, diangkat menjadi editor in chief perusahaan tersebut pada November 2017.

Cebulski hadir sebagai pembicara di event Marvel Creative Day Out di Universitas Bina Nusantara, Jakarta, Jumat (12/1).

BACA JUGA: Ario Anindito Abadikan Macan Cisewu di Komik Marvel

Wartawan Jawa Pos Glandy Burnama berkesempatan mewawancarainya.

 

BACA JUGA: Ario Anindito: Menggarap Proyek Marvel dari Bandung

Apa hal baru yang Anda lakukan sebagai editor in chief?

Saya rasa kualitas serta kinerja di Marvel sudah oke dan dipertahankan. Kalaupun saya harus melakukan sesuatu yang baru, saya akan memastikan agar setiap kru yang ada di Marvel merupakan orang terbaik di bidangnya. Untuk itu, talenta mereka harus saya kembangkan dulu dengan baik.

BACA JUGA: Thor: Ragnarok Diprediksi Raup Rp 1 T di Pekan Pertama

 

Menurut Anda, apa yang membuat superhero Marvel berbeda?

Sebelum membuat sosok superhero, kami menentukan konsep karakter dan identitasnya sebagai orang biasa yang juga mengalami hal-hal umum. Misalnya, sebelum mengonsep Spider-Man, kami mengonsep Peter Parker yang merupakan siswa sekolah biasa. Sebelum menciptakan Iron Man, kami membayangkan Tony Stark sebagai seorang jutawan dan pengusaha. Selain itu, permasalahan yang mereka hadapi sebagai orang biasa umumnya adalah permasalahan yang dihadapi banyak orang.

 

Ada tujuan khusus dari pembuatan karakter dengan cara itu?

Tentu saja. Pembaca bisa merasa terhubung dengan karakter tersebut karena mengenalnya sebagai orang biasa. Kalau kami terlalu mengekspos segi karakter superhero, pembaca bisa jadi hanya mengenalnya sebagai pahlawan super yang sangat berbeda dengan diri mereka.

 

Banyak komik Marvel yang diadaptasi ke dalam bentuk film, serial, dan games. Apa peran Anda dalam proses adaptasi itu?

Saya sering berkoordinasi dan bertukar pendapat dengan pihak-pihak yang mengadaptasi karakter Marvel. Misalnya dengan para desainer karakter untuk film-film Marvel Studios. Saya membantu dan memberi masukan agar desain mereka tetap mempertahankan ciri khas si karakter seperti di komik. Saya juga harus memastikan agar jalan cerita dan konsep tetap bersinergi dengan komik.

 

Bagaimana agar Marvel Comics tetap menjadi sumber adaptasi atau inspirasi film, serial, games, dan bahkan merchandise?

Yang pasti, Marvel Comics harus tetap produktif. Semakin banyak ragam cerita dan karakter yang dihasilkan, pelaku industri kreatif di bidang lain akan semakin punya banyak referensi untuk karya mereka. Dari situ, Marvel Comics bisa menjadi salah satu acuan untuk berkarya.

 

Karakter Marvel semakin beragam. Mulai Iron Man versi perempuan Afrika-Amerika, Spider-Man blasteran Latin-Afrika-Amerika, hingga Ms Marvel yang Pakistan-Amerika muslimah. Apa rencana Anda terkait keberagaman itu?

Marvel sekarang memang lebih terbuka pada keberagaman. Namun, keberagaman harus diciptakan secara natural di komik. Karena itulah, saya berusaha mencari comic artist dari berbagai latar belakang. Mereka lantas saya ajak untuk menuangkan pengalaman pribadi mereka terkait keberagaman budaya ke dalam karakter yang diciptakan. Itu akan melahirkan berbagai macam karakter dengan beragam latar budaya.

 

Apakah akan ada karakter baru yang menunjukkan keberagaman budaya di dunia?

Kalian harus menunggu untuk itu. Kami punya banyak creator dan seniman komik dari seluruh dunia. Karakter baru yang lebih beragam sangat mungkin ada. Yang pasti, Marvel ingin agar keberagaman semakin berkembang dalam ranah budaya pop.

 

Lantas, bagaimana Marvel menjaring perempuan sebagai pasar dari komik dan budaya pop?

Di Marvel, kami juga punya banyak seniman dan kru perempuan yang punya passion untuk menciptakan superhero perempuan dan cerita yang inspiratif. Di samping itu, demografi audiens kami menunjukkan bahwa fans perempuan hampir sama banyak dengan fans laki-laki. Karena itulah, Marvel selalu berusaha memberikan hiburan yang berkualitas bagi perempuan.

 

Kualitas apa saja yang Anda cari dari seorang seniman komik?

Ada tiga yang utama. Mereka harus bisa menggambar dengan indah sekaligus menuturkan cerita untuk digabung menjadi sebuah komik. Lantas, mereka harus respek pada editor, terlebih jika deadline sudah mepet. Ketiga, mereka harus tetap bisa menikmati pekerjaan walau banyak tekanan. Pada akhirnya, bekerja di industri kreatif adalah tentang bagaimana kita bisa merasa senang sepenuh hati dengan pekerjaan sebagai seniman. Oh iya, berpikiran terbuka juga menjadi salah satu hal yang saya cari karena seniman harus mau menerima berbagai saran dan ide.

 

Di Marvel Comics juga ada seniman asal Indonesia. Bagaimana pendapat Anda sebagai editor in chief?

Hari ini (Jumat, Red), saya datang bersama empat Marvel Artist asal Indonesia. Saya sudah melihat kinerja mereka selama bekerja di Marvel. Mereka bisa memberikan karya kelas dunia dan tak pernah kehabisan ide kreatif. Di samping itu, semangat kerja sama dan sifat kekeluargaan mereka di Marvel sangat besar. Saya beruntung ada orang Indonesia di tim kami.

 

Apakah suatu saat Marvel akan menciptakan karakter dari Indonesia mengingat ada seniman asal Indonesia di Marvel?

Wah, saya ingin sekali ada karakter Indonesia di jagat Marvel. Yang perlu saya lakukan sekarang adalah mencari penulis cerita dari Indonesia yang bisa menciptakan superhero atau karakter Indonesia. Pokoknya, karakter atau superhero yang dia ciptakan harus bisa mencerminkan budaya dan masyarakat Indonesia. Saya yakin itu bakalan keren! (len/c17/nda)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Homecoming Kembalikan Spider-Man ke Fitrahnya


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler