Alexa Analytics
JPNN.com App
Aplikasi Berita Terbaru dan Terpopuler
Dapatkan di Play Store atau Apps Store

Darmizal Sebut Lonceng Kematian Bagi Menteri Minim Prestasi, Reshuffle?

Kamis, 09 Juli 2020 – 11:05 WIB
Darmizal Sebut Lonceng Kematian Bagi Menteri Minim Prestasi, Reshuffle? - JPNN.COM
Ketua Umum Relawan Jokowi alias RéJO HM Darmizal. Foto: Dok. ReJo

jpnn.com, JAKARTA - Ketua umum Relawan Jokowi atau ReJO HM Darmizal MS menilai sebagai presiden yang dipilih oleh mayoritas rakyat Indonesia selama dua periode kepemimpinannya, ada perubahan terhadap Joko Widodo.

Menurut Darmizal, pada periode pertama Jokowi lebih banyak action dalam bekerja. Bahkan, tanpa banyak bicara. Mantan Wali Kota Surakarta itu langsung pindah frekuensi melakukan reshuffle dengan mengganti menteri yang bekerja lemot dan minim prestasi.

“Presiden Jokowi tidak segan-segan mengganti menteri yang tidak berkompeten dan tangkas dalam bekerja," kata Darmizal dalam keterangan persnya, Kamis (9/7/2020).

Saat itu, lanjut Darmizal, hasilnya terlihat nyata. Pembangunan dalam segala hal terlihat bergerak begitu cepat. Terutama sektor infrastruktur. Hal mana diakui oleh Datok Mahathir Mohammad, Perdana Menteri Malaysia, yang menyebut "untuk pertama kalinya kita tertinggal dari Indonesia dalam pembangunan."

“Namun pada periode kedua ini, Jokowi lebih lembut dan halus seperti orang Solo yang penuh toto kromo dan ewuh pakewuh. Presiden terlihat lebih ingin mengajak anak buahnya sebagai team work andal punya pandangan dan semangat yang sama, yaitu sense of crisis terhadap keadaan terkini di masa pandemi Corona yang belum mereda,” ungkap Darmizal.

Alumni Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta ini menilai arahan Presiden Jokowi atas hal yang sama secara berulang dalam waktu berdekatan, yakni tanggal 18 Juni diunggah 28 Juni dan pengarahan "ganti channel pada 7 Juli" adalah suatu pertanda kuat tidak jalannya arahan pertama. Oleh karena itu, Jokowi turun langsung berhadapan dengan pejabat Eselon 1 kementerian yang punya dana besar.

“Pidato Presiden Jokowi pada 18 Juni dan 7 Juli terasa sebagai lonceng kematian bagi para menteri yang lemot dan minim prestasi. Ungkapan presiden tersebut adalah sinyal kuat atau penegasan perlunya pembantu beliau menciptakan tradisi baru, yaitu mundur atau berhenti sebelum diberhentikan," tegas Darmizal.

Lebih lanjut, Darmizal menjelaskan seorang menteri sebagai orang yang mengerti dan pelaksana teknis harus lebih peka melihat bahasa tubuh presiden. Menteri, harus responsif tanpa perlu menunggu arahan apalagi perintah.

loading...