Hubungan Diplomatik Indonesia dan Tiongkok: Meresapi Sejarah, Membangun Masa Depan Bersama
Oleh Odemus Bei Witono - Mahasiswa Doktoral Filsafat STF DriyarkaraSebagai solusi, penting untuk membangun pemahaman yang lebih baik mengenai sejarah hubungan Indonesia-Tiongkok dan mempromosikan dialog terbuka untuk mengatasi ambiguitas yang masih ada.
Selain itu, langkah-langkah konkret perlu diambil untuk menghapuskan diskriminasi, mendorong pembauran etnis dan budaya, serta memperkuat kerja sama bilateral yang saling menguntungkan.
Dalam menghadapi masa depan, penting bagi Indonesia dan Tiongkok untuk bersama-sama membangun hubungan yang kokoh dan harmonis.
Pemerintah Indonesia perlu terus berkomitmen untuk menciptakan lingkungan yang inklusif dan menghormati keberagaman etnis dan budaya, sementara Tiongkok dapat berperan aktif dalam mendukung integrasi komunitas Tionghoa di Indonesia dan mempromosikan pemahaman yang lebih baik antar-keduanya.
Dengan demikian, dapat diciptakan fondasi yang kuat untuk membangun masa depan yang saling menguntungkan dan harmonis antara Indonesia dan Tiongkok.
Budiarto Shambazy (2015) menegaskan bahwa Indonesia sebagai bangsa besar semestinya sudah lebih dewasa dan matang tidak lagi berlaku diskriminatif terhadap orang Tionghoa yang juga saudara-saudara kita sendiri.
Sebagai catatan akhir, sejarah panjang hubungan antara Indonesia dan Tiongkok telah membentuk dinamika hubungan bilateral, namun ambiguitas dan ketidakpastian dalam sejarah tersebut menciptakan tantangan bagi harmoni etnis, khususnya dalam konteks komunitas Tionghoa di Indonesia.
Meskipun hubungan diplomatik telah pulih sejak 1990, tantangan seperti saling curiga, diskriminasi turun temurun, dan ketakutan terhadap pengaruh komunisme masih mempengaruhi hubungan bilateral dan komunitas Tionghoa di Indonesia.