Alexa Analytics
Close Banner Apps JPNN.com
JPNN.com App
Aplikasi Berita Terbaru dan Terpopuler
Dapatkan di Play Store atau Apps Store
Download Apps JPNN.com

Kabar Baik dari Satgas Covid-19, Semoga

Rabu, 15 September 2021 – 22:23 WIB
Kabar Baik dari Satgas Covid-19, Semoga - JPNN.COM
Satgas Covid-19 melaporkan terkait positivity rate. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Selama dua pekan terakhir, rata-rata kasus positif Covid-19 atau positivity rate di Indonesia di bawah lima persen sesuai dengan standar yang diterapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Hal itu disampaikan langsung oleh Bidang Data dan Teknologi Informasi Satgas Covid-19 Dr. Dewi Nur Aisyah dalam sebuah webinar 'Covid-19 Dalam Angka', Rabu (15/9) WIB.

Menurut Dewi, jika angka itu bisa bertahan selama satu bulan penuh, bisa menjadi bukti bahwa pandemi di Indonesia terkendali.

"Dari tanggal 1 September memang bisa dilihat cukup stabil, di mana angka rata-rata positivity rate 4,92. Kalau sebulan bisa selalu di bawah lima persen, ini menunjukkan pengendalian pandemi yang jauh lebih baik dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

"Saat lonjakan kasus positif Covid-19 pada Juli lalu, rata-rata positivity rate di Indonesia mencapai 32 persen. Kemudian berangsur-angsur turun pada Agustus hingga menjadi 18 persen. Catatan itu berasal dari pemeriksaan PCR dan antigen," ungkap Dewi.

Dia menambahkan angka positivity rate yang didapatkan merupakan hasil orang positif Covid-19 dari jumlah yang diperiksa.

Secara epidemiologis idealnya testing dilakukan terhadap tiga orang di antaranya, kepada orang yang pernah kontak erat dengan pasien Covid-19, dan pulang melakukan perjalanan dari daerah dengan tingkat paparan tinggi.

Namun yang terjadi di Indonesia data testing bercampur dengan pemeriksaan yang di luar dari tiga kategori tersebut, seperti misalnya akan melakukan perjalanan.

Satgas Covid-19 mengumumkan selama dua pekan terakhir rata-rata kasus positif Covid-19 atau positivity rate di Indonesia di bawah lima persen sesuai dengan standar yang diterapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).


BERITA LAINNYA