Sedih, Pengin Nangis...Bocah-bocah Itu Harus Berenang Menuju Sekolah
Pagi itu perahu tak kunjung datang. Semua perahu di pulau sudah keluar untuk melaut, menjual hasil tangkapan, ataupun mengambil air ke Lombok. Bosan menunggu, Ilham, seorang siswa SMP yang paling besar memutuskan berenang ke seberang.
“Ayo, nanti terlambat,” teriaknya pada teman-temannya yang lain.
Langkah beraninya itu lantas diikuti siswa SMP lainnya. Tak berselang lama, sejumlah siswa SD juga mengikuti jejak kakak-kakak mereka. sepatu yang dikenakan terpaksa harus dibuka. Beberapa memasukkannya ke dalam tas yang kemudian diangkat tinggi di atas kepala agar tak basah.
“Kalau tak ada perahu kita memang seperti ini,” kata Putri, seorang siswa kelas V SD.
Pagi itu mereka agak beruntung. Air sedang surut. Lebih surut dari biasanya. Tingginya hanya sekitar satu meter saja. Padahal jika sedang pasang yang bisa mencapai lebih dari empat meter. Namun, kendati begitu, sejumlah anak tampak begitu kepayahan.
Salah satunya Mariadi, siswa kelas I SD. Ia tertinggal jauh di baris paling belakang. Kendati sudah bersusah payah mengejar, ia tetap saja kesulitan. Kesal dengan keadaan, ia tak mau lagi mengangkat tasnya tinggi-tinggi.
Bisa dipastikan seluruh sepatu dan buku pelajaran yang ada di dalam tasnya basah semua. Sambil menangis kencang, anak itu menggeret-geret tasnya di atas air laut yang setinggi dadanya.
Sungguh miris melihat anak-anak bertaruh nyawa untuk mengenyam bangku sekolah. Bagaimana jika angin tiba-tiba tak bersahabat, ombak mengganas atau hujan lebat ketika mereka di tengah perairan.