Tak Punya Bank Data, Hanya Andalkan Ingatan
Jumat, 20 Juni 2008 – 10:58 WIB
Dengan mengandalkan daya ingat, Rosihan tetap bisa menulis obituari saat deadline mepet sesuai permintaan redaksi. Dia sering hanya punya waktu dua jam demi menulis obituari sepanjang dua halaman. Sebab, terkadang seorang tokoh meninggal pada jam-jam sore dan malam. Padahal, obituari itu harus terbit esoknya. ”Biasanya, mereka (redaksi) menelepon saya, terus langsung saya buatkan,” ujar Rosihan.
Sebelum memulai menulis, Rosihan biasanya membuat outline cerita sang tokoh terlebih dahulu. Dia selalu bercerita tentang kesan pribadi tentang kehidupan dan pekerjaan tokoh yang bersangkutan. Karena bersifat personal, kesan itu adalah sesuatu yang baru dan belum banyak diketahui pembaca.
Rosihan selalu menulis sendiri obituari pada mesin ketik di ruang kerjanya. Menurut dia, mesin ketik tua itu sudah menemaninya 40 tahun. Dari situlah, puluhan obituari tokoh terbit di berbagai media ditulis.
Mengapa tidak menggunakan komputer? ’’Kan ada orang yang butuh suasana kerja yang lain. Saya menikmati suara mesin ketik itu,’’ katanya.
Akibat bekerja di bawah tekanan waktu, Rosihan mengakui ada beberapa obituari yang dia tulis terkadang salah nama ataupun penyebutan waktu. Beberapa kali dia langsung meminta maaf kepada keluarga atas kesalahan tersebut. ’’Itu saya akui,’’ ujarnya.
Rosihan mengkritik sikap para pekerja media yang sering tidak menghargai sejarah. Pernah, satu kali, Rosihan mengaku menulis sebuah obituari tentang Kapten Islam Salim, putra dari Haji Agus Salim, diplomat ulung yang juga pahlawan nasional dari Sumatera Barat. Namun, saat disetorkan ke redaksi, ternyata obituari itu ditolak hanya karena sang tokoh dianggap tidak terkenal. ’’Saya kecewa saat itu karena mereka tidak menghargai sejarah,’’ katanya.